Amran mengatakan, saat ini gudang tersebut menampung kiriman jagung dari 9 perusahaan yang ada di Gorontalo. Setiap bulan, gudang tersebut menerima produksi jagung hingga sekitar 10 ribu ton yang siap dikirim ke seluruh Indonesia.
"Sekarang ini jagung masuk 1.000 ton per hari, itu baru satu perusahaan, sementara ada 9 perusahaan. Per hari bisa 10 ribu ton, di sini saja bisa 3 juta," tuturnya di Limboto, Gorontalo, Jumat (21/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebentar lagi masuk Mei, belum ada permintaam impor. Lagipula ngapain impor, ini kualitasya lebih bagus. Jagung impor ciri-cirinya biasanya ayam ras kakinya putih, tapi kalau dengan jagung Gorontalo kakinya kuning, telornya juga kuning. Sudah produksinya bagus, kualitasnya bagus," imbuhnya.
Amran mengakui memang ada pihak yang selalu teriak-teriak bahwa pasokan jagung nasional langka. Padahal, jika melihat produksi tersebut cukup memenuhi kebutuhan untuk industri peternakan.
"Mereka yang selalu berteriak minta jagung itu hanya butuh 5 ribu ton. Kalau minta jagung ada di Bulog. Cadangan kita di Bulog 140 ribu ton. Jadi tidak mungkin kita kekurangan jagung," tegasnya.
Amran pun yakin, jika volume produksi jagung di Gorontalo bisa stabil, maka pemerintah bisa dengan tenang menutup keran impor. Dia juga janji tidak akan terpengaruh dengan pihak-pihak yang meminta impor jagung dibuka.
"Kenapa hobi impor? Tidak ada cerita impor lagi. Selama dari Gorontalo 10 ribu ton per hari, tidak akan saya buka impor. Saya akan kunci impor, enggak usah. You melakukan manuver apapun aku tidak kasih," tegasnya. (hns/hns)











































