Analisa CT Soal Masih Banyaknya Orang Miskin di Indonesia

Analisa CT Soal Masih Banyaknya Orang Miskin di Indonesia

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 23 Apr 2017 10:20 WIB
Analisa CT Soal Masih Banyaknya Orang Miskin di Indonesia
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 260 juta dengan 82,7% merupakan beragama muslim masih terbilang banyak yang masuk ke dalam kelas masyarakat bawah.

Hal tersebut diungkapkan Pemilik CT Corp Chairul Tanjung saat menjadi pembicara di acara Kongres Ekonomi Umat (KEU) 2017 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Sabtu malam (22/4/2017).

Dia menyebutkan, ada beberapa hal yang membuat masyarakat miskin tetap miskin dan sulit keluar dari jurang kemiskinan, yaitu budaya. Pria yang akrab disapa CT ini mengatakan, budaya yang dimaksud adalah budaya kemiskinan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini yang menyebabkan kita kalah dengan umat lain, kalau kita miskin itu selalu berserah diri, ini sudah takdir. Kita harus ubah, bahwa kita harus kaya di dunia dan juga di akhirat. Budaya ini harus kita ubah, kita tidak ada yang menolong kecuali diri kita sendiri," kata CT.
Chairul Tanjung jadi pembicara di acara Kongres Ekonomi Umat 2017Chairul Tanjung jadi pembicara di acara Kongres Ekonomi Umat 2017 Foto: Hendra Kusuma
Budaya selanjutnya, kata CT adalah budaya santai yang dimiliki masyarakat Indonesia. Seharusnya, setiap masyarakat yang ingin keluar dari jurang kemiskinan harus disiplin dalam menjalani kehidupannya.

"Seharusnya segera menyelesaikan tugas agar bisa santai, tidak terbiasa berdisiplin, mengalah untuk menghindari konflik, terus hanya mau tahu kulitnya saja, ini masalah yang ada, kita terjebak dalam budaya kemiskinan," tambah Mantan Menko Perekonomian tersebut.

Tidak hanya itu, sulitnya masyarakat di Indonesia yang keluar dari jurang kemiskinan dikarenakan terjebak oleh budaya instan. Misalnya, ingin cepat kaya tapi dengan korupsi, padahal untuk menjadi kaya itu halal bahkan diwajibkan tetapi dengan cara yang benar. Lalu, ingin urusan cepat namun dengan melakukan suap.

"Saya mencoba membuat lebih konkret apa yang harus kita lakukan, pertama kita harus mendidik umat kita jangan lagi tangan di bawah, kenapa agama kita ajarkan sebaik-baiknya tangan itu yang di atas bukan di bawah, jadi jangan pernah mendidik umat kita menjadi seorang peminta-minta, buatlah umat kita yang mau berjuang untuk merebut kesuksesannya, bukan belas kasihan orang lain, karena itu penyakit harga diri," kata dia.

"Oleh karenanya dia harus inovatif, kreatif dan entrepreneur agar bisa bersaing dengan umat lain," tukasnya. (mkj/mkj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads