Follow detikFinance
Selasa 25 Apr 2017, 17:11 WIB

Soal Pemindahan Ibu Kota, JK: Ini Bukan Pekerjaan Mudah

Muhammad Taufiqqurahman - detikFinance
Soal Pemindahan Ibu Kota, JK: Ini Bukan Pekerjaan Mudah Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pemindahan ibu kota negara tengah dikaji oleh pemerintah. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memiliki kalkulasi sendiri soal rencana tersebut.

"Pertama, soal pemindahan ibu kota kan sudah dijelaskan bahwa ini baru studi," kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (25/4/2017).

JK mengatakan pemindahan ibu kota bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal itu dikarenakan harus memindahkan pegawai pusat yang berjumlah 800 ribu orang dari semua kementerian dan lembaga. Masalah lainnya adalah ketersediaan fasilitas.

"Tidak mudah kita berbicara dalam tahap hari ini. Mungkin belakangan hari ya. Tapi inikan jangka panjang pembicaraan itu dan di samping itu segala juga aspek-aspek lain itu banyak terikut," terangnya.

Berdasarkan Undang-undang tentang kedudukan ibu kota negara, maka setiap lembaga seperti pengadilan, Mahkamah Agung, markas TNI semua harus ikut berpindah ke tempat yang baru. Jika hal tersebut dilaksanakan, pemerintah harus menyiapkan banyak rumah, perkantoran.

"Kalau kantor barangkali kita bisa jual baru bikin. Tapi kalau rumah bagaimana. sekolah bagaimana? Jadi ini bukan pekerjaan (mudah). Tapi kalau studi iya sampai bertahap," kata JK.

Biasanya, lanjut JK, negara yang memiliki ibu kota yang berada di lokasi agak jauh adalah negara yang menganut sistem federal seperti di Australia. Pemindahan ibu kota harus memiliki dasar yang kuat.

"Apa dasarnya itu ke Palangkaraya? Kalau negara di Asia pindah ibu kota Kuala Lumpur itu dekat saja ke Putra Jaya. Yang baru-baru pindah Myanmar ke Naypyidaw. tapi Naypyidaw itu diambil tempat yang persis di tengah. Artinya timur, barat, utara, selatan titiknya di Naypyidaw. Supaya adil," terangnya.

"Saya tidak tahu bagaimana nanti studi Bappenas itu. Tapi, kalau mau cari kota yang persis di tengah Indonesia di mana coba? Mamuju," sambungnya.

Berdasarkan letal geografis, posisi Mamuju berada di tengah dan di bawahnya ada Kota Pare-pare. Namun lahan yang berada di Mamuju tidaklah luas dibanding Kalimantan.

"Tapi kalau mau seperti cara berfikirnya Myanmar, pokoknya garis titik tengah utara selatan itu Naypyidaw. Jadi rakyat tidak ada keberatan karena tengah. Tapi orang tetap tinggal di Yangoon. Jadi tiap Sabtu itu pejabat-pejabat Myanmar itu pulang ke rumah di Yangoon. Itu negara kecil kalau kita gimana gimana," ujarnya.

Oleh karenanya, lanjut JK, banyak aspek yang harus dipikirkan untuk memindahkan ibu kota, bukan hanya hanya memindahkan pemerintah, tetapi juga memindahkan swasta.

"Service-nya harus pindah bengkel-bengkel mobil. Musti ada service seperti AC musti ada. Seluruh service-nya restoran, banyak sekali yang musti diadakan itu kalau pindah Ibukota negara, dari negara kesatuan seperti kita. Kalau negara federal tidak. Karena kecil saja. Menteri Amerika cuma 14 contohnya. Australia juga kecil itu ciri-ciri federal. Kalau Malaysia yang dekat saja yang nyambung sebenarnya Putra Jaya. Kalau kita jauh sekali," jelasnya. (fiq/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed