Kenapa Jurang Antara Si Kaya dan Si Miskin Makin Lebar Sejak 1998?

Kenapa Jurang Antara Si Kaya dan Si Miskin Makin Lebar Sejak 1998?

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 27 Apr 2017 11:56 WIB
Kenapa Jurang Antara Si Kaya dan Si Miskin Makin Lebar Sejak 1998?
Foto: Michael Agustinus-detikFinance
Jakarta - Kesenjangan ekonomi antara kelas atas dengan kelas menengah dan kelas bawah di Indonesia makin lebar sejak 1998. Penyebabnya adalah perubahan struktur perekonomian Indonesia pasca krisis ekonomi 1998.

Sebelum diterjang krisis, motor utama penggerak perekonomian nasional adalah industri manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja. Industri-industri manufaktur di Indonesia gulung tikar akibat krisis ekonomi 19 tahun lalu.

Setelah itu, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia bergeser ke sektor pengelolaan sumber daya alam seperti kelapa sawit, karet, batu bara, mineral. Sektor-sektor ini tidak membutuhkan banyak tenaga kerja seperti halnya industri pengolahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambung pada dekade 2000-an sampai 2011 karena harga komoditas sedang tinggi (booming comodities). Tapi pertumbuhan ini tidak merata karena jumlah tenaga kerja yang terlibat di sektor sumber daya alam relatif sedikit dibanding industri pengolahan.

Demikian disampaikan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam Sosialisasi Hasil Pendaftaran Usaha/Perusahaan Sensus Ekonomi 2016 di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (27/4/2017).

"Sejak krisis 98, ekonomi kita terus terang fokusnya pindah dari motor penggeraknya industri pengolahan jadi pengelolaan sumber daya alam, ini cirinya enggak banyak pakai orang. Ini transformasinya agak aneh, jadi (tenaga kerja) yang (beralih) dari pertanian engak banyak terserap ke manufaktur," kata Darmin.

Inilah yang menyebabkan kesenjangan melebar, tercermin dari makin tingginya rasio gini. "Jadi enggak mengherankan 2001 sampe 2015 pertumbuhan ekonomi kita diiringi dengan gini rasio yang memburuk," Darmin menambahkan.

Kalau kesenjangan terus melebar, tentu dampaknya buruk, bisa menimbulkan kecemburuan sosial dan merusak persatuan di tengah masyarakat. Maka pemerintah berupaya melakukan pemerataan ekonomi.

Caranya dengan mengembangkan sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Misalnya industri padat karya, infrastruktur, pariwisata, dan sebagainya. Struktur ekonomi Indonesia harus bertransformasi lagi, tidak terus bergantung pada sumber daya alam mentah.

Selain itu, pemerintah juga akan melakukan redistribusi lahan pertanian dan memberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. "Kalau kebijakan-kebijakan ini dikombinasi, kita bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, bahkan transformasi ekonomi yang berkualitas," tutupnya. (mca/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads