Sebelum diterjang krisis, motor utama penggerak perekonomian nasional adalah industri manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja. Industri-industri manufaktur di Indonesia gulung tikar akibat krisis ekonomi 19 tahun lalu.
Setelah itu, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia bergeser ke sektor pengelolaan sumber daya alam seperti kelapa sawit, karet, batu bara, mineral. Sektor-sektor ini tidak membutuhkan banyak tenaga kerja seperti halnya industri pengolahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian disampaikan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam Sosialisasi Hasil Pendaftaran Usaha/Perusahaan Sensus Ekonomi 2016 di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (27/4/2017).
"Sejak krisis 98, ekonomi kita terus terang fokusnya pindah dari motor penggeraknya industri pengolahan jadi pengelolaan sumber daya alam, ini cirinya enggak banyak pakai orang. Ini transformasinya agak aneh, jadi (tenaga kerja) yang (beralih) dari pertanian engak banyak terserap ke manufaktur," kata Darmin.
Inilah yang menyebabkan kesenjangan melebar, tercermin dari makin tingginya rasio gini. "Jadi enggak mengherankan 2001 sampe 2015 pertumbuhan ekonomi kita diiringi dengan gini rasio yang memburuk," Darmin menambahkan.
Kalau kesenjangan terus melebar, tentu dampaknya buruk, bisa menimbulkan kecemburuan sosial dan merusak persatuan di tengah masyarakat. Maka pemerintah berupaya melakukan pemerataan ekonomi.
Caranya dengan mengembangkan sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Misalnya industri padat karya, infrastruktur, pariwisata, dan sebagainya. Struktur ekonomi Indonesia harus bertransformasi lagi, tidak terus bergantung pada sumber daya alam mentah.
Selain itu, pemerintah juga akan melakukan redistribusi lahan pertanian dan memberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. "Kalau kebijakan-kebijakan ini dikombinasi, kita bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, bahkan transformasi ekonomi yang berkualitas," tutupnya. (mca/dna)











































