Mengintip Ramalan Ekonomi RI dan Dunia dari IMF

Mengintip Ramalan Ekonomi RI dan Dunia dari IMF

Wahyu Daniel - detikFinance
Kamis, 27 Apr 2017 15:19 WIB
Mengintip Ramalan Ekonomi RI dan Dunia dari IMF
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Kondisi perekonomian dunia pada tahun ini diramalkan mulai membaik. Meski begitu, ada sejumlah risiko yang dihadapi, dan bisa membuat pertumbuhan ekonomi dunia turun.

Penasihat Ekonomi dan Direktur Departemen Penelitian International Monetary Fund (IMF), Maurice Obstfeld, mengatakan pemulihan pertumbuhan ekonomi dunia terjadi, namun dalam jangka menengah tetap ada tekanan yang dialami.

Risiko yang dialami dibagi dalam dua kelompok. Pertama risiko jangka pendek dan kedua jangka menengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk jangka pendek ada pengetatan kondisi keuangan dan penguatan dolar AS," kata Maurice, dalam diskusi di acara 'Peluncuran Buku Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2016', di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (27/4/2017).

Kemudian adalah kebijakan-kebijakan dari sejumlah negara dengan perekonomian utama di dunia. Lalu kondisi geopolitik yang tidak pasti.

Sementara untuk risiko jangka menengah bagi perekonomian global adalah perlambatan ekonomi China, hingga perlambatan pertumbuhan produktivitas.

Secara keseluruhan, berikut proyeksi pertumbuhan dunia dan sejumlah negara termasuk Indonesia versi IMF:
  1. Dunia 3,5% (2017) dan 3,5% (2018)
  2. Amerika Serikat 2,3% (2017) dan 2,5% (2018)
  3. Inggris 2% (2017) dan 1,5% (2018)
  4. Jepang 1,2% (2017) dan 0,6% (2018)
  5. Uni Eropa 1,7% (2017) dan 1,6% (2018)
  6. Jerman 1,6% (2017) dan 1,5% (2018)
  7. Kanada 1,9% (2017) dan 2% (2018)
  8. China 6,6% (2017) dan 6,2% (2018)
  9. India 7,2% (2017) dan 7,7% (2018)
  10. Brasil 0,2% (2017) dan 1,7% (2018)
  11. Indonesia 5,1% (2017) dan 5,3% (2018)
Maurice mengatakan, ekonomi Indonesia terus memperlihatkan perbaikan. Di 2016 lalu, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara berkembang yang sebesar 4%.

Laju inflasi terjaga cukup rendah, demikian juga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dinilai IMF stabil atau tidak bergejolak.

Dari sisi fiskal, Marice menyatakan, tantangan yang dihadapi adalah menurunnya rasio pendapatan negara dibandingkan PDB.

Rasio pendapatan pajak dibanding PDB atau tax ratio juga perlu ditingkatkan, karena Indonesia kalah dari negara-negara seperti Vietnam, China, Thailand, India, Filipina, dan Malaysia.

Angka rasio investasi pemerintah dibandingkan PDB juga terendah di antara negara berkembang di Asia.

Di tempat yang sama, Menko Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan Indonesia sebenarnya sudah berhasil membelokkan arah perlambatan ekonominya. Di 2016, ekonomi Indonesia sudah balik arah naik.

"Pemerintah bisa mengendalikan inflasi rendah. Setelah 2 tahun bergulat antara Bank Indonesia dengan menteri. Akhirnya bisa di bawah 4%," jelas Darmin.

Dia mengatakan, walaupun kenaikan pertumbuhan ekonomi di 2016 kecil, namun disertai dengan hal positif, yaitu penurunan kemiskinan dan pengangguran. Kemudian rasio gini, yang merupakan ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat, angkanya menurun.

"Saya punya hipotesis atau dugaan, ini karena pembangunan infrastruktur yang masih dalam tahap membangun, sehingga banyak menyerap tenaga kerja," jelas Darmin.

Namun yang harus dijaga adalah, apakah penurunan rasio gini tersebut bisa berlanjut. "Pemerintah tidak kuat membiayai infrastruktur dengan APBN. karena nilainya tinggi akibat kita ketinggalan sudah jauh sekali," papar Darmin. (wdl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads