Kepala Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas II Mamuju Sulawesi Barat, Priyadi, mengatakan skema penanaman terintegrasi ini baru dilakukan sejak 2015.
Priyadi menyebutkan, tujuan diberlakukannya skema tumpang sari antara jagung dengan kelapa sawit agar target produksi pangan inti di Kabupaten Mamuju Tengah tercapai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemanfaatan tanaman jagung dengan kelapa sawit, kata Priyadi, menggunakan lahan milik perusahaan swasta yang sebelumnya menanam kelapa sawit.
"Jadi itu ada yang punya konsesi perusahaan, ada juga petani plasma, kalau yang tumpang sari itu ditanam di kelapa sawit yang masih kecil, kalau sudah besar tidak bisa, karena tidak ada cahaya," tambahnya.
Luas lahan persawahan di Sulawesi Barat mencapai sekitar 70 ribu hektar dengan produk unggulannya padi dan jagung. Sedangkan di sektor perkebunan, ada kelapa sawit, kakao dan kopi.
Khusus di Mamuju Tengah, luas tanaman jagung yang terintegrasi dengan sawit seluas 19 ribu hektar dari total luas di Kabupaten Mamuju Tengah seluas 3.014 km persegi.
Dari total 3.014 km per segi terdiri dari 5 kecamatan, 56 desa dan penduduk 140 ribu jiwa. Untuk persawahan 11.189 hektar yang merupakan lahan tadah hujan. Luas lahan untuk kakao 13 ribu hektar, sawit seluas 42 ribu hektar, kelapa seluas 2.358 hektar, kopi seluas 1.093 hektar.
Untuk produksi beras di Sulbar, Priyadi mengatakan setiap tahunnya meningkat cukup signifikan. Pada 2014 produksi beras sebesar 449 ribu ton, pada 2015 meningkat menjadi 461 ribu ton, pada 2016 meningkat lagi menjadi 636 ribu ton, dan pada 2017 ditargetkan produksinya mencapai 700 ribu ton.
Sedangkan untuk jagung, produksinya meningkat pada 2014 sebesar 110 ribu ton, dan pada 2016 naik menjadi 425 ribu ton.
"Ini dilakukan dengan irigasi teknis yang baru mencapai 20%, bagaimana kalau irigasinya sudah meningkat, dan kalau dimanfaatkan lagi," kata dia.
Saat ini, lanjut Priyadi, yang masih menjadi masalah bagi petani adalah paska panen, di mana hasil produksi pangan petani masih banyak yang mengalir ke para tengkulak dan bukan diserap oleh Perum Bulog.
"Masalahnya paska panen itu banyak dijual tengkulak, kalau yang saya dengar itu, karena sebelum panen kebanyakan petani itu sudah meminjam uang kepada para tengkulak," tutur Priyadi. (hns/hns)











































