Follow detikFinance
Jumat 28 Apr 2017, 14:04 WIB

Sri Mulyani dan Caranya Memahami Surat-surat Kartini

Muhammad Idris - detikFinance
Sri Mulyani dan Caranya Memahami Surat-surat Kartini Sri Mulyani dan Caranya Memahami Surat-surat Kartini (Foto: Hasan Alhabshy)
Jakarta - Peringatan Hari Kartini tak cukup hanya jadi simbol emansipasi wanita Indonesia, namun juga dimaknai sebagai pengingat bahwa perlunya menghargai perempuan dalam keseharian.

Begitu yang diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam pandangannya soal sosok Kartini.

Sri Mulyani sengaja menggelar Peringatan Hari Kartini di Kementerian Keuangan. Hadir dalam peringatan tersebut 150 orang yang berasal dari seluruh eselon I. Kemudian seluruh pejabat perempuan dari eselon II dan eselon III di Kementerian Keuangan.

Selain itu, hadir pula sejumlah pejabat perempuan dari BUMN yang berada di bawah Kementerian Keuangan seperti PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (Persero), dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).

Dalam sambutannya, Sri Mulyani mengawali dengan mengenang sosok Kartini beserta surat-suratnya yang indah.

"Sebetulnya saya menghargai untuk peringatan Hari Kartini saja, tapi kalau kita dengar surat-suratnya itu lebih kepada untuk kita melatih, apalagi perempuan, bagaimanan kita mampu menghargai," ucap Sri Mulyani saat Peringatan Kartini 2017 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (28/4/2017).



Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyinggung 'jiwa sosial' Kartini yang melampaui kebiasaan di masanya saat itu.

"Seorang perempuan yang hidup lebih dari 100 tahun lalu memiliki kepekaan sosial, hatinya, karena sebuah hati yang bersih adalah mampu untuk melihat dan merasakan. Tidak hanya perasaan dia sendiri, tapi solidaritas sosial luar biasa." ungkapnya.

Padahal 100 tahun lalu kehidupan perempuan serba dikungkung adat dan budaya. Akses informasi ke dunia luar pun sangat terbatas. Sehingga, kata Sri Mulyani apa yang dilakukan Kartini saat itu, tergolong sangat luar biasa.

Sri Mulyani dan Caranya Memahami Surat-surat KartiniSri Mulyani dan Caranya Memahami Surat-surat Kartini Foto: Muhammad Idris


"Pikiran dia, walaupun secara fisik harus ada dalam satu lingkungan, terkungkung, tidak ada mobilitas, belum ada internet, keterbatasan untuk mengakses. Bahwa dia bisa mendapatkan akses buku-buku itu pun bukan tanpa perjuangan. Saya sebetulnya ingin di antara pegawai perempuan, tapi juga pegawai laki-laki, untuk melatih mampu mengapresiasi," kata dia.

"Itu adalah sesuatu yang luar biasa. Karena kalau berhasil, dia akan menggerakkan hati dan pikirannya yang diapresiasi menjadi inspirasi," tambah Sri Mulyani.



Kartini yang hidup saat feodalisme mengakar kuat ini, lanjutnya, bisa menggambarkan dengan sangat gamblang kondisi zamannya lewat surat-surat yang dikirimkan ke sahabat penanya. Termasuk ketika Kartini bercerita soal anak Jawa penjual rumput.

"Dalam konteks lebih 100 tahun lalu, semua pesan dan katanya sangat indah. Kata-katanya selalu indah, bahkan waktu menceritakan fenomena sosial seperti anak umur 6 tahun yang harus menjual rumput. Betapa indah tapi sedih, menggambarkan dia harus bawa rumput besar sekali sehingga dia tidak kelihatan. Saya membayangkan, anak jawa yang kurus kecil tapi dia harus bekerja keras menjual rumput. Dan itu menyentuh hatinya," ujarnya.

(idr/mkj)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed