Upaya pemerataan mobilitas logistik di seluruh jalur Pulau Jawa sedang disiapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
"Kalau dari sisi jaringan, pulau Jawa ini kan didukung oleh jalur logistik Barat dan Timur ada yang di Utara dan Selatan. Kalau ini bisa kita bangun lebih awal, mestinya beban lalu lintasnya akan lebih berimbang, karena pergerakannya akan terdistribusi. Pengembangan wilayahnya juga akan terdorong. Jadi tidak semuanya akan ke Utara, yang Selatan juga akan sama berkembangnya," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Herry Trisaputra Zuna, kepada detikFinance, Jumat malam (28/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum diketahui secara persis berapa panjang dan daerah mana saja yang akan dilalui oleh ruas tol yang masuk dalam koridor Selatan ini. Namun, pembangunan tol ini akan menjadi salah satu bagian dari rencana besar pemerintah membangun jaringan tol, untuk mendukung mobilitas barang maupun manusia di Pulau Jawa yang semakin padat.
Herry menjelaskan, pembangunan jalan tol di ruas Selatan Pulau Jawa memang tertinggal dibanding ruas utara. Ini membuat daerah Selatan Jawa kurang berkembang dibanding daerah Utaranya seperti Bandung, Semarang, hingga Surabaya.
"Kalau kita lihat yang Selatan ini kan relatif tertinggal ya. Karena aksesnya kurang. Kalau ini nanti terbangun, mestinya sepanjang jalan itu, potensi-potensi yang selama ini tidak tersentuh akan tumbuh kembali," tutur Herry.
Meski masih dalam tahap kajian, ruas tol Yogyakarta-Solo rencananya akan dibangun mulai dari Cilacap sebelum ke Yogyakarta. Ruas tol ini merupakan ruas tambahan atau ruas baru, di luar dari rencana pemerintah membangun 1.000 kilometer (km) jalan tol hingga tahun 2019 mendatang.
Ruas ini menjadi salah satu upaya pemerintah menghadapi kenyataan di masa mendatang, di mana akan terjadi kemacetan luar biasa di jalan-jalan non tol, karena tak ada jalur alternatif. Di selatan, pemerintah merencanakan menyambungkan tol dari Jagorawi hingga Surabaya.
"Kalau ke arah Jagorawi, terus ke Sukabumi, Ciranjang, Bandung, terus ke Cileunyi sampai ke Yogyakarta, Solo, sampai ke Kertosono dan ketemu lagi di Surabaya," ujar Herry.
Dia menjelaskan di antara jalur Selatan dan Utara tersebut, akan dihubungkan dengan jalur penghubung yang menjadi simpul pengurai kemacetan antara dua koridor tadi. Salah satu penghubung dua koridor tersebut saat ini adalah ruas tol Serang-Panimbang yang tengah dikerjakan.
Kemudian ada pula tol Cipularang yang menghubungkan ke Bandung, dan juga ruas Semarang-Solo di sisi paling kanannya.
"Jadi ada dua koridor Barat-Timur, di Utara dan Selatan, sehingga secara jaringan, mestinya lebih efisien daripada hari ini. Jadi nantinya akan menjadi demikian sehingga pergerakan di logistiknya akan terfasilitasi," terang Herry.
Herry menambahkan, pembangunan ruas-ruas tol di sisi Selatan Jawa menjawab kebutuhan sekaligus membuka peluang untuk daerah-daerah di Selatan bisa tumbuh.
"Jadi kalau yang jalur Selatan, itu lebih untuk membuka kawasan baru sehingga bisa lebih kompetitif. Kalau demand nanti akan tumbuh sejalan dengan dibangunnya nanti," pungkas Herry. (hns/wdl)











































