Untuk saat ini, dari total panjang hampir 850 km jalan tersebut, kondisi perkerasan aspal telah dilakukan sepanjang 289,3 km, kemudian agregat 93,65 km, jalan tanah 278,2 km, dan hutan yang belum terbuka mencapai 188,6 km.
Kepala Bidang Preservasi dan peralatan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XI, Refly Tangkere, mengatakan jalan paralel perbatasan Kalbar yakni dari Nanga Badau, Entikong, Aruk, hingga menuju Temajok bisa fungsional akhir tahun depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jalan paralel akhir 2018 sudah tembus dan fungsional paling lambat 2019, walaupun tak teraspal semua, yang penting terbuka jalannya. Targetnya nanti 42% aspal, 58% agregat," kata Refly ditemui di Entikong, Kalbar, beberapa waktu lalu.
Sementara, perkiraan kondisi jalan paralel perbatasan sampai akhir 2017 akan teraspal sepanjang 323,57 km, jalan agregat 129,39 km, dan jalan tanah sepanjang 107,36%. Sementara trase hutan terakhir yang belum terbuka adalah 107,36 km dan ditargetkan terbuka pada 2018.
Kebutuhan dana pembangunan jalan paralel Kalbar pada 2017-2018 diestimasi mencapai Rp 2,9 triliun. Namun pemerintah baru mengalokasikan dana Rp 500 miliar tahun ini.
Salah satu kendala dalam membuka jalan paralel ialah karena terdapat beberapa titik wilayah yang berstatus hutan lindung. Namun hal itu akan segera diatasi dengan berkoordinasi berbagai pihak dan pemerintah pusat. (dna/dna)











































