Andung: Tim Kecil Dibentuk Atasi Masalah Tekstil
Selasa, 26 Apr 2005 11:14 WIB
Jakarta - Menteri Perindustrian Andung A Nitimahardja mengatakan, akan membentuk tim kecil yang terdiri dari unsur Bank Indonesia (BI), perbankan dan sektor keuangan lain untuk membahas mengenai permasalahan yang terjadi dalam industri tekstil dan produk tekstil nasional. Andung menolak anggapan bahwa industri tekstil nasional sedang mengalami masa kemunduran nasional atau sunset. "Secara sektor riil pandangan bhawa industri tekstil sedang sunset itu tidak benar. Dari sisi tenaga kerja dan devisa sektor ini adalah sektor yang perlu dikembangkan," kata Andung kepada wartawan usai mengikuti rapat dengan Gubernur BI, Perbankan nasional dan pengusah tekstil di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (26/4/2005). Menurut Andung, industri tekstil sangat penting karena dua hal, yakni pertama, industri tekstil memperkerjakan banyak orang tidak kurang dari 3 juta orang yang bekerja di sektor ini. Kedua, devisa yang dihasilkan dari segi ekspor pada tahun 2004 mencapai US$ 7,5 miliar sementara impor sekitar US$ 1,7 miliar. "Jadi kita masih bersih atau net. Jadi kita memiliki devisa sekitar US$ 6 miliar," katanya.Permasalahan utama yang dihadapi industri tekstil saat ini, kata Andung, antara lain kurangnya daya saing industri karena mesin-mesin yang sudah tua. "Akibatnya kualitas produk jelek, efisiensi juga berkurang, terutama dalam penggunaan bahan baku. Ini harus kita ganti," katanya. Oleh karena itu, Andung berharap, perbankan nasional dapat mengucurkan kredit kepada industri tekstil untuk meningkatkan investasinya.Sementara itu, menurut Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, dari sisi pendanaannya hingga bulan Juli 2004, perbankan nasional telah menyalurkan kredit sebesar Rp 5 triliun. "Rp 4,8 triliun diantaranya, adalah untuk kredit modal kerjanya dan sekitar Rp 284 juta untuk modal investasi," ujarnya.Kredit investasi yang selalu kecil, harap Burhanuddin, kedepannya perbankan bisa memberikan kredit investasi yang lebih besar. Senada dengan Andung, kata Burhanuddin, diharapkan dengan adanya pemberian kredit investasi yang lebih besar ini, industri tekstil dapat memperbaiki mesin-mesin yang tua untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produknya.Saat ditanya berapa bank yang telah menyalurkan kredit, dia menjawab, ada sekitar 93 bank yang telah menyalurkan kreditnya dimana 15 bank diantaranya adalah bank-bank besar di Indonesia.
(mar/)











































