Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengatakan elektronifikasi pembayaran jalan tol merupakan bagian dari gerakan nasional non tunai (GNNT) yang dicanangkan bank sentral.
"Kegiatan elektronifikasi pembayaran ini dilakukan dengan menerapkan model bisnis yang mempertimbangkan investasi yang telah dilakukan serta kondusif bagi pertumbuhan industri," ujar Sugeng kepada detikFinance, Senin (8/5/2017)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, elektronifikasi tol tetap menggunakan infrastruktur pembaca kartu atau reader yang sudah ada. Sehingga tidak ada investasi besar yang dilakukan. Penggantian alat hanya dilakukan pada Secure Access Module (SAM), yang menjadi SAM Multiapplet. "Sehingga gerbang tol bisa membaca uang elektronik yang saat ini sudah ada," ujarnya.
Presiden Direktur Bank Central Asia, Jahja Setiaatmadja mengaku siap jika diminta untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dia menambahkan, ingin masuk ke seluruh ruas tol. Namun semuanya tergantung dengan pihak yang mengajak bank yakni Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
"Kalau boleh di semua tol, tapi itu tergantung yang ajak kita bagaimana kondisinya, sejauh ini belum ada pembicaraan, tapi juga harus diberi waktu untuk penyesuaian oleh Bank Mandiri karena mereka yang mengoperasikan saat ini," ujar dia saat dihubungi detikFinance.
Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib mengungkapkan pihaknya menyambut baik rencana penerapan pembayaran non tunai di jalan tol.
Dia menyebutkan, saat ini Mega Cash sudah menjadi alat pembayaran non tunai di tol reformasi di Makassar. "Ke depan, kami akan terus melakukan penjajakan untuk berpartisipasi di jalan tol lainnya dengan mempertimbangkan aspek bisnis yang saling menguntungkan," kata Kostaman.
Saat ini non bank milik negara (BUMN) yang memiliki uang elektronik berbasis kartu antara lain, Bank DKI dengan produk JakCard, BCA dengan Flazz, Bank Mega dengan produk MegaCash, Bank Nobu dengan NOBU e-money.
Kemudian untuk bank BUMN ada e-money dari Bank Mandiri, TapCash dari Bank Negara Indonesia (BNI), Brizzi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Blink dari Bank Tabungan Negara (BTN) yang melakukan co branding dengan Bank Mandiri.
Berdasarkan data statistik sistem pembayaran BI, jumlah uang elektronik yang beredar hingga Maret 2017 mencapai 56,05 juta kartu. Untuk volume transaksi hingga maret mencapai 180 juta transaksi dengan nilai sekitar Rp 2,23 triliun. Mesin pembaca yang beredar per maret tercatat 394,031 unit. (ang/ang)










































