Pengusaha Mal Gelisah Karena Menjamurnya Toko Online

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Senin, 08 Mei 2017 13:22 WIB
Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta - Maraknya kehadiran e-commerce atau toko online, membuat banyak orang mulai beralih dan mengubah cara belanja. Bagi kebanyakan orang, belanja online lebih mudah dan efisien.

Pertumbuhan toko online di dalam negeri cukup pesat. ini terlihat dari pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi di kyartal I-2017 yang mencapai 9,01%. Faktor pendorongnya, naiknya angka pengguna internet dan transaksi belanja online.

Menjamurnya toko online membuat toko-toko konvensional bahkan pusat perbelanjaan modern seperti mal terancam ditinggal pelanggan.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan kondisi pusat perbelanjaan modern seperti mal masih diminati oleh masyarakat. Namun, pengusaha mal tetap menyikapi keberadaan industri e-commerce yang tumbuh dengan signifikan.

"Tapi sekali lagi saya berikan early warning untuk diri kita masing-masing, jangan abaikan online. Karena e-commerce itu, yang jadi persoalan adalah mereka belanja itu tidak bayar pajak, sedangkan mereka datang sudah bayar pajak. Kemudian bayar sewa yang mahal, jadi itu terjadi persaingan," kata Enggar, saat menghadiri Rakornas Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), di Hotel Sheraton Grand, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Enggar mengatakan, potensi pengembangan pusat perbelanjaan modern masih besar. Salah satu alasannya, jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar, dan perilaku masyarakat yang kerap berkumpul di suatu tempat alias 'nongkrong'.

Oleh sebab itu, Enggar mengatakan, pihak pengusaha perlu melakukan berbagai inovasi yang kreatif agar dapat menarik minat masyarakat.

"Yang menarik di Indonesia ini kebutuhan mereka (masyarakat) untuk hangout cukup besar kemudian pengusaha kreatif sekali jadi dibuat berbagai kegiatan, ada juga kuliner dan lain sebagainya," katanya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum APPBI, Stefanus Ridwan, juga mengaku saat ini kondisi di pasar perbelanjaan modern masih terus mengalami perkembangan. Namun, dirinya tak memungkiri bila perkembangan e-commerce juga mempengaruhi pusat perbelanjaan modern yang berbasis offline.

Ia pun mengatakan bahwa pelaku di sektor perbelanjaan modern seperti mal perlu melakukan berbagai inovasi kepada konsumen, agar dapat terus dapat memiliki minat pada pasar modern.

"Kalau kami lihat online dan offline, katanya kita offline, order getting lost (pesanan berkurang). Minat masyarakat datang atau belanja di pusat perbelanjaan itu tidak menurun. Cuma (online) memang mempengaruhi. Online Transaksinya masih jauh di bawah 1%, lebih rendah cuma memang kenaikannya pesat sekali," terangnya.

"Kami yang mesti berubah, kalau enggak berubah ya kita yang ditinggalin. Jadi bagaimana yang offline ini bisa lebih menarik dari online. Menariknya, seperti dengan memberikan experience yang berbeda kepada masyarakat. Supaya terarik untuk datang dan berbelanja," tukasnya. (wdl/wdl)