Pertamina Sebaiknya Boleh Ambil Devisa Untuk Impor Minyak
Rabu, 27 Apr 2005 11:29 WIB
Jakarta - Meneg BUMN Sugiharto mengatakan, Pertamina sebaiknya mendapat jatah devisa dari migas untuk mengimpor minyak mentah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari anjloknya Rupiah akibat tingginya kebutuhan dolar Pertamina yang mencapai US$ 50 juta per hari."Alangkah adilnya kalau Pertamina memang mengekspor crude oil, masuk uangnya ke BI kemudian dia juga dibolehkan untuk mengambil devisa untuk impor minyak," kata Sugiharto kepada wartawan disela-sela seminar musim semi perekonomian Indonesia di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (27/4/2005).Sugiharto mengungkapkan, siang nanti dirinya akan membahas permasalahan ini dengan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdulah. "Sehingga Pertamina bisa mendapagt jatah langsung devisa dari Bank Indonesia. Jadi tidak melalui pasar," kata Sugiharto.Sugiharto mengakui bahwa kebutuhan dolar Pertamina yang mencapai US$ 50 juta per hari, memang harus dibatasi pembeliannya, mengingat volume perdagangan valas yang hanya US$ 200-300 juta. "Jadi cukup significan kalau Pertamina bisa diisolasi dari perdagangan itu," tegasnya.Dijelaskan, saat ini Pertamina menjual BBM kepada masyarakat dalam Rupiah, namun membeli minyak mentahnya dalam dolar AS, sehingga ada distrosi terhadap perdagangan di pasar uang. RI Kembali Net Eksportir MinyakSementara itu, dalam kata sambutannya, Sugiharto mengatakan, Indonesia diharapkan bisa menjadi negara net eksportir minyak kembali dalam periode 5-10 tahun ke depan.Sugiharto mengatakan, ada dua hal yang mendukung pencapaian tersebut. Pertama, ditemukannya cadangan minyak di Blok Cepu yang saat ini dalam prosess negosiasi dengan Exxon. Kedua, ditemukannya cadangan minyak di Selat Madura. "Jadi cadangan produksi minyak bisa meningkat 20-25 persen," kata Sugiharto. Khusus untuk Selat Madura, menurut Sugiharti saat ini tengah dilakukan pengeboran oleh Santos dan Medco, dimana dengan produksi dari lapangan ini, produksi minyak Indonesia bisa meningkat 15-20 persen. "Mudah-mudahan bisa beroperasi tahun ini," demikian mantan direktur keuangan Medco ini.
(qom/)











































