Tumbuh 5,01%, Ini Tantangan Ekonomi Indonesia

Tumbuh 5,01%, Ini Tantangan Ekonomi Indonesia

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Senin, 08 Mei 2017 18:14 WIB
Tumbuh 5,01%, Ini Tantangan Ekonomi Indonesia
Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tiga bulan pertama tahun ini mencapai 5,01%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal I tahun 2016 dan kuartal IV tahun 2017.

Bahkan angka ini diperkirakan terus meningkat sehingga akhir tahun pertumbuhan diproyeksi mencapai angka 5,2%. Namun ternyata, ada hal yang bisa mengancam stabilitas pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan menghadapi risiko meningkatnya ketidakpastian global. Menurut Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran Kemenko Perekonomian, Raden Edi Prio Pambudi, faktor tersebut bisa datang dari luar negeri, terutama kebijakan-kebijakan negara besar seperti Amerika dan China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, adanya perubahan kepala negara melalui pemilihan umum di beberapa negara Eropa berpotensi mengubah tatanan kebijakan negara tersebut.

"Kalau eksternal itu normalisasi US, kemudian China, kemudian faktor kondisi pemilu di Eropa. Intinya kalau dia sudah mulai menimbulkan shock terhadap capital flow, berarti kita harus siap-siap. Karena kita ini masih banyak bergantung pada financial and capital balance. Sehingga volatilitas-nya timbul di situ. Jadi kalau kita enggak menjaga volatilitas di situ, bisa kecolongan kita," katanya ditemui di Menara Thamrin, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Indonesia pun perlu memasang posisi kehati-hatian makroekonomi untuk mengatasi risiko besar. Pasalnya, neraca fiskal harus bisa tetap terjaga agar ekonomi bisa tetap tumbuh secara berkelanjutan.

"Kalau pada saat current account kita masih defisit, yang membiayai kan financial capital flow. Kalau ini (capital flow) juga dia tiba-tiba balik (keluar dari Indonesia), entah ke negara mana, nanti yang membiayai current account defisit mana?" ungkapnya.

Salah satu yang dikhawatirkan adalah potensi penyesuaian suku bunga di Amerika Serikat, hingga sentimen proteksionisme yang akan dilakukan oleh Presiden Donald Trump.

Meski mengaku Indonesia nantinya tak akan terkena dampak secara langsung, namun, ia meyakini pemerintah telah mengantisipasi jika hal tersebut sampai terjadi.

"Secara langsung ya tidak. Kami yakin tidak. Karena kami sudah siap dengan berbagai macam (cara). Tapi kita lihat, progres dari setiap kebijakan Trump kita lihat, bener enggak dieksekusi. Kadang kala ya, sampai retorika aja," tutur dia.

Misalnya, Indonesia dimasukkan ke daftar negara yang cheating. Ya kita anggota WTO, gimana caranya cheating. Jangan sampai masalah fiskalnya negara mereka, yang disalahin negara lain," pungkasnya. (dna/dna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads