Ketua Komisi I DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath, mengatakan sejumlah nelayan dari wilayah lain sering datang ke perairan Masalembu untuk mengambil ikan menggunakan cantrang, hingga merugikan nelayan pulau asli Masalembu.
"Kalau misalkan kapal wilayah lain (Pantura), datang tangkap ikan pakai cantrang, itu satu ikan di pulau itu cukup diangkut dengan dua perahu langsung habis," ujarnya kepada detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dok. Nelayan Pulau Masalembu |
Berbeda dengan menggunakan cantrang, nelayan Masalembu yang menggunakan alat pancing tradisional dapat menjaga ekosistem ikan di laut. Dengan begitu, maka seluruh nelayan Masalembu bisa ikut merasakan dan kebagian panen ikan di perairan tersebut.
"Kalau pakai alat tradisional satu perahu kecil itu bisa dapat 1-2 kwintal (ikan), secara kolektif semua nelayan dapat kebagian. Artinya semua pelayan bisa dapat hak yang sama. Mereka sekali melaut itu sudah untuk bisa makan seminggu. Kalau dalam kondisi ikan normal," terangnya.
Dengan penggunaan cantrang, Darul mengatakan, musim panen ikan laut juga bakal bertambah lama. Dari satu tahun sekali menjadi dua tahun sekali.
Oleh sebab itu, Darul meminta supaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut turun tangan dan dengan tegas melakukan pelarangan penggunaan cantran yang merugikan.
"Saya kira menjadi sangat jelas betapapun negara ini dibangun tidak hanya untuk memperkaya satu wilayah tertentu dan membiarkan wilayah lain jadi miskin. Saya berharap agar Pak Jokowi tidak membiarkan pulau kecil ini jadi objek jajahan daerah tetangga sendiri," tuturnya. (ang/ang)












































Foto: Dok. Nelayan Pulau Masalembu