RI Bangun Lumbung Pangan di Daerah Perbatasan

RI Bangun Lumbung Pangan di Daerah Perbatasan

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Selasa, 09 Mei 2017 21:28 WIB
RI Bangun Lumbung Pangan di Daerah Perbatasan
Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Saat ini petani memiliki jaminan harga dan juga jaminan pasar dari pemerintah. Karena pasar dalam negeri saat ini terus meningkat dari waktu ke waktu.

Sekitar 7 juta ton jagung pertahun yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Dulu para importir bahan pangan pokok lebih senang mengimpor dari Negara luar karena akses yang sulit sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih mahal.

Dengan adanya solusi yang diberikan pemerintah saat ini untuk meyerap seluruh hasil produksi petani, diharapkan tidak ada lagi petani yang merugi, sehingga semua pihak dapat menikmati hasilnya serta mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi saat ini petani tidak usah takut, dulu petani tidak dipertemukan dengan pasarnya, para importir terus mengimpor dan petani juga terus menanam, namun saat ini petani mendapatkan jaminan harga dan pasar dari pemerintah," ujar Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, dalam keterangan tertulis, Selasa (9/5/2017).

Dalam Rapat Koordinasi Gabungan (Rakorgab) yang digelar di Kantor Badan Litbang Pertanian, Mentan selain membahas mengenai pengembangan pangan di wilayah penyangga kota besar, Rakorgab kali ini juga membahas mengenai pengembangan lumbung pangan di wilayah perbatasan negara.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), membangun bangsa adalah membangun dari pinggiran, sehingga sebagai tindak lanjutnya Mentan menginstruksikan seluruh Bupati yang berada di wilayah perbatasan antara lain Kabupaten Karimun, Lingga , Entingkong, Merauke, Sambas, Belu dan Malaka, menyiapkan dan membuka wilayahnya seluas-luasnya sebagai gerbang ekspor ke Negara tetangga.

"Kita akan membangun daerah perbatasan sebagai lumbung pangan sesuai dengan keunggulan komparatifnya dan sesuai dengan culture masyarakatnya," kata Amran

Saat ini Mentan akan fokus ekspor ke Negara beras organik dan jagung ke negara tetangga. Negara Malaysia dan Filipina membutuhkan bahan pokok pangan dari Indonesia.

Diketahui bahwa negara Malaysia tiap tahunya mengimpor 3 Juta ton Jagung/tahun setara dengan Rp 20 triliun. Hal ini tentunya menjadi peluang besar bagi 5 kabupaten yang berada di daerah perbatasan langsung negara Malaysia yaitu Kabupaten Entikong, Sambas, Nunukan dan Bengkayang untuk dapat mengekspor hasil produksinya.

Sekitar 1 juta hektar lahan pertanian dibutuhkan untuk pengembangan lumbung pangan di daerah perbatasan.

"Malaysia dan Filipina senang dengan produksi jagung kita, sekitar 6-7 juta ton Jagung/ tahun kebutuhan dari Negara tersebut, 5 kabupaten tersebut harus bisa mengisinya," jelas Amran.

Untuk mendukung hal tersebut Kementerian Pertanian telah menganggarkan bantuan benih unggul senilai Rp 2 triliun. Nantinya benih tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan produksi.

"Ke depan untuk benih unggul kita siapkan anggaran 2 triliun agar daerah perbatasan dapat meningkatkan produksinya," terang Amran.

Mentan menambahkan bahwa setiap daerah perbatasan juga harus mempelajari dan menjajaki lagi kebutuhan pangan yang dibutuhkan oleh negara tetangga.

"Kita akan siapkan benih apa saja yang dibutuhkan, tetapi harus sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya, bukan dari kebutuhan proyek " ucap Amran

Selain Jagung komoditas lain yang memiliki peluang untuk dapat di ekspor ke Negara tetangga adalah beras organik. Kebutuhan beras di Negara Malaysia adalah 1,5 juta ton/tahun.

"Kita harus rebut pasar tersebut, jangan kalah dengan Negara Amerika, Argentina, Vietnam dan Pastikan yang berhasil mengekspor ke Negara Malaysia," tegas Mentan (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads