PLN Bantah Borong Dolar AS
Rabu, 27 Apr 2005 17:06 WIB
Jakarta -
Melemahnya nilai Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disinyalir akibat pemenuhan kebutuhan valas Pertamina dan PLN yang cukup besar. Namun tudingan itu dibantah Direktur PLN Eddie Widiono."PLN tidak memborong dolar AS," tegas Eddie Widiono di Istana Wakil Presiden Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (27/4/2005). Eddie mengungkapkan hal itu usai menghadiri rapat yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla. Rapat juga dihadiri Menteri ESDM, Menneg BUMN, Direktur Pertamina Widya Purnama dan Direktur PGN, WNP Simanjuntak.Menurut Eddie, untuk pemenuhan kebutuhan dolar AS itu, PLN selalu berkoordinasi dengan pihak perbankan termasuk dengan Bank Indonesia (BI). "Jadi kami tidak melakukan rush," katanya.Ketika ditanya apakah dalam rapat tersebut disinggung oleh Wapres soal pemborongan dolar AS untuk PLN dan Pertamina? Eddi menyatakan, secara spesifik hal itu tidak dibahas. "Tapi memang ada langkah-langkah yang harus dilakukan supaya kebutuhan dolar AS kita bisa terencana," tegasnya.Menyinggung isi rapat dengan Wapres, Eddie mengatakan, dalam rapat tersebut dibahas soal koordinasi dan ketersediaan gas serta keberlangsungan pembangkit-pembangkit listrik. "Kita bicarakan soal koordinasi dan ketersediaan gas. Jadi kami sampaikan langkah-langkah kalau BBM naik terus. Bagaimana kesiapan PLN dengan pembangkit-pembangkit baru, ketersediaan gas dan kendala yang dihadapi," katanya.Menurut Eddie, hingga kini pembangkit listrik PLN yang memakai BBM sebanyak 26 persen. Diharapkan 2007 hingga tahun 2010 pemakaian BBM akan turun hingga 5 persen.Makanya untuk mengatasinya, maka diperlukan pengganti BBM seperti gas. Eddie menyatakan, kebutuhan gas PLN tahun 2005 ini membutuhkan tambahan sekitar 200 million metric british thermal unit (MMBTU). "Memang kebutuhan gas kita besar pada tahun 2007, kita berharap sudah bisa 600-800 juta meter kaki kubik per hari (MMSCFD)," katanya.
(mar/)










































