Namun, siapa yang menyangka jika bangunan rumah yang terletak di pinggir kolam ikan tersebut dulunya merupakan Stasiun Saketi. Bangunan tua tersebut dulunya jadi tempat pemberhentian kereta api Rangkasbitung-Labuan yang dioperasikan perusahaan kereta api Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS).
Stasiun Saketi yang dibangun 1906 ini adalah stasiun kereta api non-aktif yang berada di Bumi Debus itu. Dari Stasiun Saketi kemudian relnya percabangan yang mengarah ke Labuan dan Bayah yang dibangun romusha saat zaman Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stasiun Saketi (Foto: Dok. KAI) |
"Stasiun-stasiun banyak beralih jadi rumah hunian dan tempat usaha. Sementara relnya juga banyak yang sudah jadi jalan, ada yang sudah hilang juga," kata Agus kepada detikFinance, Selasa (16/5/2017).
Namun kondisi stasiun warisan Belanda yang jadi hunian warga masih dikatakan lebih baik. Beberapa stasiun yang tersebar di Jawa kondisinya cukup memperihatinkan. Seperti yang terjadi pada Stasiun Cikajang di Garut.
Bangunan Stasiun Cikajang sangat terbengkalai dengan seluruh atapnya telah hilang. Temboknya pun lama mengelupas dengan lumut di setiap sudutnya. Kondisi relnya juga setali tiga uang, oleh warga, bekas lintasan kereta api ini telah berubah jadi pembatas jalan gang desa.
Stasiun Cikajang (Foto: Dok. KAI) |
Hal yang sama juga terlihat di rel kereta api Bayah-Saketi yang telah berubah jadi pasar. Besi rel dan bantalan masih terlihat utuh di beberapa bagian, sementara di sisi kiri kanannya terlihat lapak-lapak pedagang pasar. Selain itu, jembatan-jembatan rel juga sebagian besar beralih fungsi menjadi jembatan bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Foto: Dok. KAI |
Seperti diketahui, saat masih bernama Hindia Belanda, kereta api bisa disebut-sebut sebagai moda transportasi paling favorit, baik bagi angkutan barang maupun penumpang. Sampai dengan 1939, Belanda membangun jaringan rel kereta api sepanjang kurang lebih 6.500 kilometer (km).
Namun demikian, pasca merdeka, jalur-jalur kereta yang sudah dibangun, sebagian dibangun dari kerja rodi, malah akhirnya tak dioperasikan atau menjadi rel mati. Di beberapa lokasi, rel-rel tersebut telah beralih menjadi permukiman padat, di tempat lain bahkan rel besi dan bantalannya telah raib tak berbekas.
Foto: Dok. KAI |
Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mencatat, saat ini setidaknya ada duapertiga dari total jaringan rel peninggalan Belanda yang masih aktif, atau sekitar 4.000 km.
Pembangunan jalur kereta api di Indonesia dimulai sejak Gubernur Jenderal Baron Sloet Van Den Beele. Pembangunan rel kereta pertama dilakukan oleh perusahaan transportasi Belanda Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM).
Jalur pertama yang dibangun saat itu yakni Kemijen di Semarang menuju Desa Tanggung. Yang kemudian dilanjutkan dengan menghubungan Semarang dengan Surakarta pada 1870-an. Tercatat, sampai dengan 1939, Belanda saat itu sudah membangun 6.811 km di Jawa dan Sumatera.
Foto: Dok. KAI |
Foto: Dok. KAI |












































Stasiun Saketi (Foto: Dok. KAI)
Stasiun Cikajang (Foto: Dok. KAI)
Foto: Dok. KAI
Foto: Dok. KAI
Foto: Dok. KAI
Foto: Dok. KAI