Keuntungan RI Ikut Forum Jalur Sutra Modern di China

Keuntungan RI Ikut Forum Jalur Sutra Modern di China

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 17 Mei 2017 20:12 WIB
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Menteri Perencanaan dan Pembanguna Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyebutkan, banyak keuntungan yang didapatkan Indonesia pada saat acara Konferensi Tingkat Tinggi Belt and Road Forum Internasional di Beijing, China.

Bambang menyebutkan, salah satu keuntungan tersebut yaitu membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak bertumpu di Pulau Jawa, salah satunya dengan adanya investasi langsung dari China.

Apalagi, Indonesia datang ke gelaran tersebut dengan membawa berbagai persiapan investasi seperti proyek koridor ekonomi terintegrasi, konektivitas, industri, dan pariwisata di Sumatera Utara antara lain fasilitas Pelabuhan Kuala Tanjung dan akses jalan dari Kota Medan hingga Sibolga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu kesempatan investasi di Sulawesi Utara yang akan meningkatkan infrastruktur di Bitung-Manado-Gorontalo melalui akses jalan, jalur kereta api dan pelabuhan serta bandara, dan investasi proyek energi dan pembangkit listrik di Provinsi Kalimantan Utara.

"Jadi kita tentunya datang dengan persiapan yang matang, yaitu kita fokus dengan mendorong investasi China ke wilayah di luar Jawa, jadi yang kita tawarkan secara garis besar kita ingin mengimbangi pertumbuhan ekonomi Jawa dengan luar Jawa, luar Jawa yang harus didorong lebih cepat, untuk mendorong lebih cepat dibutuhkan investasi dalam jumlah besar, kalau investasi yang sekarang tidak memadai maka cari sumber yang baru, karena itu kita dorong ada investasi China yang masuk di luar Jawa, terutama di daerah yang relevan dengan belt and road. Karena tidak semua wilayah Indonesia itu dianggap bagian Belt and Road itu," kata Bambang kepada wartawan di Kantornya, Jakarta, Rabu (17/5/2017).

Keuntungan yang lain, kata Bambang, terjadi kesepakatan investasi di sektor infrastruktur yang tingkat pengembaliannya cepat, baik swasta dengan swasta, maupun swasta dengan BUMN. Namun, dalam acara tersebut tidak membahas mengenai kerja sama perdagangan.

"Jadi misalnya kemarin bersama Kepala BKPM bertemu dengan perusahaan yang tertarik smelter, smelterya dia bisa beberapa macam, bisa bauksit, tembaga, atau emas, terus saya ketemu perusahaan dengan e-commerce maksudnya mengembangkan e-commerce di Indonesia, pembangkit listrik juga, saya lihat mereka mau investasi, jadi bukan jualan barang seperti ekspor impor pada umumnya," kata dia.

Salah satu investasi yang sudah disepakati, mengenai pengembangan kawasan pariwisata di Morotai, yakni PT Jababeka dengan perusahaan hotel asal China. Keuntungan lainnya, mengenai pencairan dana pinjaman proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung oleh China Development Bank (CDB).

"Itu officialy sudah cair dari CDB, saya enggak ingat berapa, saya kan bukan juru bicara pemerintah, dan ini kan pinjaman swasta, makanya saya tidak urusin, karena kan saya urusi hanya pinjaman pemerintah, itu yang kereta cepat diklarifikasi bahwa itu pinjaman swasta, ingat proyek kereta cepat itu tidak ada baik jaminan apapun, dan di Bappenas pun urusannya tidak lewat sini," jelasnya.

Dengan terciptanya beberapa kesepakatan investasi, Bambang mengungkapkan, pemerintah akan memberikan jaminan kemudahan perizinan sebagai bentuk fasilitas kerjasama investasi.

Namun, Bambang mengingatkan, kepada para investor untuk mematuhi aturan yang berlaku di Indonesia, khususnya mengenai aturan ketenagakerjaan.

"Itu kemarin saya tanya khusus dan mereka memberikan jaminan bahwa tenaga kerja itu ada banyak ketika konstruksi, karena mereka ingin cepat mengerjakan proyeknya, setelah itu mereka temporer, mereka akan kembali ke negaranya, dan ketika sudah operasi mereka lebih senang pakai yang lokal, jadi hanya pada akhir konstruksi ketika mereka ingin penyelesaian mereka ingin cepat nah itu mungkin tenaga kerja asingnya lebih banyak pada biasanya, tetapi setelah itu mereka pulang, operasi dari pabrik sudah ditangani tenaga lokal," tukasnya. (mkj/mkj)

Hide Ads