Follow detikFinance
Kamis 18 May 2017, 17:11 WIB

Kementan Minta Bulog Gencar Serap Gabah

Niken Widya Yunita - detikFinance
Kementan Minta Bulog Gencar Serap Gabah Ilustrasi beras (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Daya serap gabah petani dari Badan Urusan Logistik (Bulog) anjlok. Indikasi tersebut terlihat dari protesnya petani yang gabahnya tidak laku terjual.

Petani dari Karawang Bekasi bernama Jufri mengeluhkan itu. Jufri mengatakan, gabahnya tidak laku dijual.

"Seharusnya, ketika harga gabah anjok, Bulog turun untuk membeli gabah kami," kata Jufri, seorang petani di Karawang Bekasi.

Jufri telah berusaha keras untuk menanam padi karena telah dijanjikan pemerintah bila hasil panennya pasti dibeli. Namun saat panen, hasilnya tidak laku dijual. Akhirnya para tengkulak datang dengan menawar harga yang sangat murah.

Baca juga: Disubsidi Rp 230 M, Bulog Ngaku Tak Rugi Serap Gabah Kualitas Rendah

Hal seperti ini juga dialami para petani di Kecamatan Kradenan, Jawa Tengah, bernama Parto. Parto pasrah akan keadaan tersebut.

"Susah Pak, kami hanya bisa menerima keadaan ketika harga anjlok seperti ini. Inginnya kami setelah panen langsung dijual namun harganya sangat rendah," kata Parto.

Jika tidak segera laku, maka Parto khawatir gabah akan membusuk karena kondisi cuaca di tempatnya yang kerap turun hujan.

"Panas matahari jarang dijumpai sehingga kita tidak bisa menjemur hasil panen," tutur Parto.

Baca juga: Gabah Petani yang Diserap Bulog Kualitasnya Rendah, Ini Langkah Mentan

Demikian pula yang dirasakan para petani di Kabupaten Sragen. Selain hasil panen yang kurang maksimal akibat serangan hama wereng, harga gabah juga anjlok jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).

"Banyak petani mengeluh karena hasil panen tidak seperti yang diharapkan. Sudah habis dimakan wereng, harga jual gabah juga anjlok dan tidak bisa nutup biaya produksi," ujar kata petani di Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Sragen bernama Dasiman.

Dasiman yang merupakan petani penggarap mengaku tidak mendapat keuntungan sama sekali dalam panen kali ini. Hasil panen sawah seluas sepertiga hektare atau satu patok yang digarap hanya laku dijual seharga Rp 6,5 juta. Sedangkan biaya produksi yang dikeluarkan selama ini sekitar Rp 3 juta.

"Separuh dari harga jual gabah saya serahkan ke pemilik sawah. Karena saya hanya petani penggarap. Jadi hasilnya paron," ujarnya.

Demikian pula yang dialami para petani di Kampung Koleberes, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, bernama Udin Saefudin. Mereka mengeluhkan rendahnya harga gabah.

Udin mengatakan, turunnya harga gabah sudah menjadi tren ketika musim panen. Jika tak naik berarti turun. Tanpa adanya faktor yang pasti petani lagi-lagi menjadi objek permainan tengkulak demi meraup keuntungan.

Disebutkan Udin, mereka tidak menyangka harga gabah turun hingga Rp 1.000 per kilogram. Harga gabah yang sebelumnya menembus Rp 4.200 per kilogram, kini berada pada angka Rp 3.200 per kilogram.

Penurunan kinerja Bulog ini diakui oleh Perum Bulog Sub Drive Cirebon. Menurut Kepala Bulog Cirebon, Taufik Budi Santoso, melalui Kasi Pengadaan Bulog, Dadang Unanda, mengatakan, hingga April 2017 ini, Perum Bulog Sub Drive Cirebon baru bisa menyerap gabah 17.500 ton atau 13 persennya dari target prognosa sebanyak 150.500 ton setara beras.

Padahal, penyerapan yang dilakukan Bulog hingga posisi bulan yang sama di 2016 lalu, telah berhasil menyerap 33 ribu ton setara beras.

"Hingga akhir tahun ini, Bulog menargetkan prognosa pengadaan hingga mencapai 150.500 ton setara beras. Namun sampai dengan April 2017, target prognosa akhir tahun baru terserap 13 persennya atau terserap hingga 17.500 ton setara beras," tutur Dadang.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi menegaskan, kondisi seperti ini seharusnya tak terjadi.

"Pemerintah telah menjamin akan menyerap seluruh hasil gabah petani bila harganya di bawah HPP. Apalagi komitmen tersebut merupakan perintah langsung dari Presiden Joko Widodo," kata Agung dalam keterangan tertulis dari Kementan, Kamis (18/5/2017).

Menurutnya, irama kinerja Bulog yang belum memperlihatkan kerja konsisten ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang harus harus terus dibenahi. Apalagi bila Indonesia telah menetapkan target swasembada pangan dan punya keinginan mengembalikan kehormatan dan martabat petani sebagai pekerjaan terhormat.

Baca juga: Mentan Minta Bulog Serap Gabah Kualitas Rendah Petani (nwy/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed