Direktur Keuangan Wijaya Karya Antonius Kosasih mengatakan, penyerapan tersebut merupakan hasil dari capaian progres pembangunan LRT yang telah mencapai 18,2%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara financial, progresnya sudah mencapai 18,2% dari Kontrak yang Rp 5,2 triliun. Progres ini lebih cepat dari Rencana Kerja yang 17%," ungkap Kosasih saat dihubungi detikFinance, Kamis (18/05/2017).
Kosasih meyakini, hingga saat ini pihaknya tidak menemui kendala perihal hambatan keuangan dari sisi Wika sebagai kontraktor LRT.
"Tidak ada kendala di WIKA," pungkasnya.
Lebih lanjut Kosasih mengklaim, jika Wika berhasil menyelesaikan proyek LRT koridor 1 pada Agustus 2018 maka pihaknya akan tercatat sebagai pemegang rekor Musium Rekor Indonesia (Muri) dengan pembangunan LRT dan Depo tercepat.
Proyek LRT Jakarta ini telah dimulai secara resmi pada 22 Juni 2016. Sedangkan pekerjaan konstruksi utama dimulai pada Januari 2017 dan diharapkan bisa rampung di Agustus 2018. Dan, mulai Februari 2018, mulai dilakukan pengadaan rangkaian kereta ringan.
"Bahkan kalau selesai di Agustus 2018 akan masuk rekor dunia pembangunan LRT dan Depo tercepat," terangnya. (dna/dna)











































