Adalah pemangkasan belanja negara sebesar Rp 133,8 triliun, meliputi pemerintah pusat dan daerah. Pahit memang dirasakan, bagi kebanyakan pihak yang akhirnya terpaksa menunda berbagai program meski tetap harus dilaksanakan.
Sekarang hasilnya terlihat. Lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) menempatkan Indonesia pada Investment Grade dengan menaikkan peringkat Indonesia pada level BBB-/stable outlook.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir demikian (karena pemangkasan anggaran oleh Sri Mulyani). Fiscal policy credible dengan penghematan belanja demi menjaga defisit anggaran yang manageable," kata Josua Pardede, Ekonom PT Bank Permata Tbk kepada detikFinance, Jumat (19/5/2017).
Sisi lain yang positif, ketika belanja dipangkas, ekonomi masih bisa tumbuh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Pada 2016 diumumkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,02%.
"Namun dengan penghematan itupun pertumbuhan masih bisa mencapai 5,02%," imbuhnya.
Berikut realisasi APBN 2016:
- Pertumbuhan ekonomi 5,02%
- Inflasi 3,02%
- Tingkat bunga SPN 3 bulan 5,7%
- Nilai tukar rupiah 13.307/US$
- ICP US$ 40 per barel
- Lifting minyak 829 ribu barel per hari
- Gas 1,18 juta barel setara minyak.
- Belanja negara Rp 1.859,5 triliun (89,3%).
- Penerimaan negara Rp 1.551,8 triliun (86,9%)
- Defisit 2,46% terhadap PDB.











































