Follow detikFinance
Jumat 19 May 2017, 20:49 WIB

Serapan Gabah Turun, Ini Kata Petani

Niken Widya Yunita - detikFinance
Serapan Gabah Turun, Ini Kata Petani Ilustrasi beras (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Kinerja Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyerap gabah petani pada musim panen Mei 2017 dinilai merugikan petani. Hal ini terlihat dari data realisasi serap gabah (sergab) Bulog hingga (16/5/2017) hanya 145.630 ton setara beras.

Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Winarno Tohir menilai kinerja Sergab Bulog tersebut sangat buruk karena jauh lebih rendah atau anjlok 50 persen dibandingkan bulan dan periode sebelumnya. Ia menyebutkan sergab pada Maret 2017 mencapai 425.555 ton dan April 2017 sebesar 424.065 ton setara beras.

Sementara April 2016, Bulog mampu menyerap gabah lebih banyak yakni mencapai 649.780 ton dan hingga (16/5/2016) mencapai 283.904 ton.

"Kinerja Bulog saat ini ironis dan menciderai amanah Presiden Jokowi untuk menjaga kedaulatan pangan dengan menyerap gabah petani minimal 4 juta ton setara beras dalam waktu 6 bulan yakni Maret hingga Agustus 2017. Jadi Bulog jangan main-main, karena ini menyangkut kedaulatan pangan dan ketahanan negara," tegas Winarno dalam keterangan tertulis dari Kementan, Jumat (19/5/2017).

Winarno meminta Bulog optimal dan gerak cepat menyerap gabah petani. Apalagi harga gabah di tingkat petani saat ini jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kg.

Menurutnya, hal ini penting mengingat Bulog sebagai satu-satunya lembaga negara yang berperan dalam penyediaan pangan nasional dan stabilisasi harga pangan agar dapat memberikan harga yang menguntungkan bagi petani.

"Bulog harus kerja keras menyerap gabah petani, walaupun gudang-gudang Bulog sudah terisi atau tidak tertampung. Ini tidak bisa dijadikan alasan. Bulog harus tetap menyerap gabah petani dan menyewa gudang-gudang milik BUMN dan swasta yang ada," ucapnya.

Winarno pun menegaskan buruknya kinerja Bulog dalam menyerap gabah petani dapat memberikan dampak negatif yang fatal terhadap ruang yang terbuka lebar bagi para tengkulak untuk membeli gabah petani dengan harga murah. Di sisi lain, berakibat pada lemahnya ketahanan pangan nasional karena stok beras nasional jauh dari target, sehingga berpotensi besar menciptakan impor.

"Inilah pentingnya Bulog tidak boleh diam dan main-main, harus turun cepat serap gabah petani agar harga stabil atau menguntungkan petani. Stok beras nasional terjaga dan impor jangan sampai terjadi," tegasnya.

Udin Saefudin, Petani di Kampung Koleberes, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Sukabumi mengungkapkan turunnya harga gabah memang sudah menjadi tren ketika musim panen. Harga gabah saat ini turun sampai Rp 1.000 per kilogram. Padahal, harga gabah sebelumnya Rp 4.200 per kilogram, akan tetapi saat ini hanya Rp 3.200 per kilogram.

"Jika tak naik berarti turun. Tanpa adanya faktor yang pasti petani lagi-lagi menjadi objek permainan tengkulak demi meraup keuntungan," ungkapnya.

Demikian juga yang dialami Jufri, petani di Karawang, Jawa Barat. Dia mengeluhkan tidak hadirnya Bulog di tengah musim panen berlangsung. Padahal katanya, turunya Bulog di lapangan sangat penting karena harga gabah sedang anjlok.

"Kami berusaha keras untuk menanam padi karena pemerintah melalui Bulog akan beli dan jamin harga yang untungkan petani. Tapi kenyataanya sekarang tidak ada Bulog yang turun beli gabah kami. Jadinya, para tengkulak leluasa turun beli murah gabah kami petani," tuturnya.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi menegaskan, kondisi seperti ini seharusnya tak terjadi mengingat pemerintah telah menjamin akan menyerap seluruh hasil gabah petani bila harganya di bawah harga yg ditetapkan pemerintah (HPP). Apalagi komitmen tersebut merupakan perintah langsung dari Jokowi.

Irama kinerja Bulog yang belum memperlihatkan kerja konsisten ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang harus harus terus dibenahi. Apalagi bila Indonesia telah menetapkan target swasembada pangan dan punya keinginan mengembalikan kehormatan dan martabat petani sebagai pekerjaan terhormat. (nwy/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed