Sekitar akhir 2014 dan awal 2015, konsumsi ikan di Indonesia hanya 36 kg per kapita per tahun. Setelah kebijakan memerangi illegal fishing, menurut Susi, akhir 2016 konsumsi ikan naik jadi 41 per kapita per tahun. Konsumsi ikan saat ini terus naik, jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
"Konsumsi ikan di Indonesia naik dari 36 kg ke 41 kg per kapita per tahun di 2016. Target kami tahun kemarin konsumsi ikan 43 kg lebih," ujar Susi, saat memberikan pemaparan pada puncak peringatan HUT Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) ke-44, di Pantai Depok Bantul, Minggu (21/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Usman Hadi |
Peningkatan konsumsi ikan yang terjadi ini menimbulkan dampak ekonomi yang luar biasa. Karena itu Susi mengatakan, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) perikanan di Indonesia meningkat.
Selain konsumsi ikan naik, kebijakan memerangi illegal fishing juga berdampak lurus penghematan bahan bakar. Sebelumnya, menurut Susi, kapal asing yang melakukan penangkapan ikan ilegal, kerap menggunakan bahan bakar dari Indonesia. "Rupanya selama ini di tengah laut ada POM bensin. Di tengah laut (bahan bakar) dijual ke maling-maling ikan," ungkapnya.
Tapi kini kebijakan tersebut sudah tak lagi berjalan, sehingga terjadi penghematan terutama bahan bakar dalam negeri. Imbasnya, Susi menyebut Pertamina mendapat banyak suplus. "Baik sekali orang kita ini. Indonesia orangnya ramah, termasuk sama pencuri yang menjarah rumahnya," sindirnya.
Menurut Susi, upaya perbaikan yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik, dan bisa jadi pijakan maju ke depan. "Ini satu titik yang baik, titik awal untuk maju ke depan," tuturnya.
Semua ini terjadi, diklaim Susi karena keseriusan pemerintah lewat KKP dalam memerangi illegal fishing. Sehingga kapal-kapal yang kerap mencuri ikan di Indonesia, mulai berpikir dua kali. "Karena sekarang kapal makin sedikit, tapi tangkapannya makin banyak. Hasil (tangkapan) per kapal lebih banyak dibanding sebelumnya," tutupnya. (wdl/wdl)












































Foto: Usman Hadi