Hingga Sekarang RI Masih Bergantung Garam Impor, Ini Buktinya

Hingga Sekarang RI Masih Bergantung Garam Impor, Ini Buktinya

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 23 Mei 2017 13:55 WIB
Hingga Sekarang RI Masih Bergantung Garam Impor, Ini Buktinya
Foto: iStock
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada April 2017 terjadi beberapa bahan pokok yang mengalami peningkatan, hal tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan jelang puasa.

Melansir data BPS, Jakarta, Selasa (23/5/2017), dari beberapa bahan pokok, garam mengalami peningkatan impor. Di mana pada April 2017 sebesar 319,9 ribu ton atau tumbuh 52,2% jika dibandingkan impor garam pada Maret 2017 yang sebesar 210,1 ribu ton.

Impor garam yang tumbuh 52,2% per April 2017 itu setara dengan US$ 10,4 juta. Sedangkan Maret 2017 hanya sebesar US$ 7,65 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Garam impor yang masuk ke Indonesia paling banyak berasal dari Australia dengan volume 213,5 ribu ton yang nilainya US$ 7,95 juta. Di susul oleh India dengan 106,2 ribu yang nilainya US$ 2,41 juta.

Adapula yang berasalh dari Selandia Baru sebanyak 100,5 ton dengan nilai US$ 46,8 ribu, selanjutnya Jerman yang sebesar 66 ton dengan nilai US$ 28,7 ribu, serta Thailand yang sebesar 4,6 ton senilai US$ 3,8 ribu.

Sedangkan dilihat sepanjang Januari-April 2017, impor garam juga mengalami peningkatan jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Januari-April 2017 total impor garam sebesar 714,2 ribu ton dengan nilai US$ 24,8 juta. Sedangkan pada Januari-April 2016 hanya sebesar 531,2 ribu ton dengan nilai US$ 21,5 juta.

(mkj/mkj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads