Dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/5/2017, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengunjungj lokasi pembangunan Underpass Jatingaleh, pada Jumat (26/5/2017).
Pria yang akrab disapa Hendi itu kurang begitu yakin pembangunan underpass bisa selesai tepat waktu berdasarkan hasil pantauan langsung ke lokasi. Menurut dia, perlu kerja keras untuk bisa menyelesaikan pembangunan khususnya sampai sebelum H-5 Lebaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap hari saya mendapatkan komplain dari warga terkait kemacetan yang terjadi di Jatingaleh akibat dari pembangungan underpass yang tak kunjung selesai ini. Makanya kami berharap, ada percepatan sehingga sebelum Idul Fitri sudah bisa selesai dan bisa dilalui," katanya.
Menurut Hendi, ada beberapa masalah yang dihadapi kontraktor khususnya masalah material tanah uruk yang harus mendatangkan dari luar kota. Oleh karena itu, pihaknya berjanji akan membantu dengan menggandeng stakeholder setempat.
"Keluhannya salah satunya yakni tidak mudahnya mendapatkan tanah uruk, dan kami siap membantu," ucapnya.
Dengan selesainya pembangunan underpass, kata Hendi, akan sangat membantu dalam mengatasi masalah kemacetan yang terjadi di wilayah Jatingaleh.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Metropolitan Semarang, Danang Tri Wibowo mengakui adanya keterlambatan dalam pembangunan underpass Jatingaleh. Setidaknya keterlambatannya itu sekitar 12%.
Ia menjelaskan, untuk saat ini progres pembangunan sudah berjalan kurang lebih 60% dan di targetkan selesai pada 31 Juli 2017.
Diharapkan, pada H-10 Lebaran, kondisi jalan sudah fungsional meski belum jadi 100%. Diperkirakan kondisi underpass sudah bisa dilalui pemudik, hanya saja kondisi jalan belum teraspal dan saat ini terus mengejar waktu supaya bisa selesai sebelum Idul Fitri.
"Kami terus melakukan monitoring agar dilakukan percepatan dengan menambah jumlah pekerja, alat berat, material dan juga jam kerja. Kami kebut mumpung kondisi cuaca cukup mendukung," kata Danang.
Danang menjelaskan, untuk saat ini dilakukan pengerjaan beton sekmental dan melakukan urukan dengan panjang kurang lebih 170 meter di sisi selatan dan 170 meter di sisi utara.
Salah satu kendala yakni sulitnya mencari material karena ada beberapa lokasi yang harus dipilih dan untuk mendapatkan 1.000 meter kubik per hari tidaklah mudah.
"Per hari setidaknya 1.000 kubik urukan pilihan dan beton sekmental kami kerjakan," tuturnya. (nwy/hns)











































