Follow detikFinance
Selasa 30 May 2017, 20:12 WIB

Dampak Positif Kenaikan Rating Investasi ke Ekonomi RI

Danang Sugianto - detikFinance
Dampak Positif Kenaikan Rating Investasi ke Ekonomi RI Foto: Ari Saputra
Jakarta - Lembaga rating internasional Standard & Poor's (S&P) telah menaikan rating Indonesia menjadi BBB- atau masuk dalam kategori layak investasi (investment grade). Kenaikkan rating itu membawa angin segar, sebab selama 6 tahun S&P menetapkan rating Indonesia di level BB+ atau 1 tingkat di bawah investment grade.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta yakin, kenaikan rating tersebut akan menggenjot roda perekonomian RI. Sebab hal itu menunjukan adanya kepercayaan dari investor dunia terhadap perekonomian Indonesia.

"Artinya juga reformasi struktural yang dilakukan Pak Jokowi menunjukkan hasil," tuturnya di Gedung BRI I, Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Menururt Arif, meningkatnya peringkat investasi Indonesia akan bermanfaat bagi pembangunan Indonesia khususnya infrastruktur. Sebab selain dapat meningkatkan besarnya modal yang masuk, juga akan menurunkan biaya modal (cost of capital) di pasar modal.

Meningkatnya peringkat investasi juga diyakini akan mendorong turunnya imbal hasil dari surat utang negara (SUN) yang dikeluarkan pemerintah untuk pembiayaan negara. Secara tidak langsung hal itu juga akan menekan suku bunga perbankan untuk turun.

"Pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Diharapkan cadangan devisa juga naik dan capital inflow meningkat karena datangnya investor asing," imbuhnya.

Arif juga yakin, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa tumbuh diatas target yang ditetapkan pemerintah 5,1%. Ada beberapa hal yang membuatnya yakin, pertama pada kuartal I-2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5.01%, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,92%.

"Kedua inflasi juga dijaga terkendali, diharapkan inflasi 3+-1%. Itu dikontribusikan juga dengan inflasi bahan makanan yang rendah. Karena ini akan membantu daya konsumsi masyarakat. Kalau daya beli ada, maka sektor riil juga akan bergerak," terangnya.

Menurut Arif, meski inflasi pada April 2017 sedikit meningkat ke level 4,17%, namun inflasi bahan makanan turun ke level 2,8%. Dia memandang penurunan inflasi bahan makanan dapat mendorong tingkat konsumsi masyarakat di tahun ini.

Ketiga, kata Arif, pertumbuhan ekonomi pada negara mitra dagang Indonesia di kuartal I-2017 juga cukup positif. Seperti Chinga yang tumbuh dari 6,7% di periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 6,9%, Jepang naik dari 0,48% jadi 1,56%, Malaysia tumbuh dari 4,05% jadi 5,64% dan Amerika Serikat yang tumbuh dari 1,57% ke level 2,04%.

"Artinya pertumbuhan ekonomi mitra dagang bisa memberikan prospek positif, bahwa kita punya peluang tumbuh lebih dari asumsi makro," tambahnya. (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed