Rapat terbagi atas dua sesi. Sesi pertama khusus membahas Bengkulu yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB.
Jokowi saat membuka rapat menuturkan tingkat kemiskinan di wilayah tersebut masih cukup tinggi. Meskipun, pada kuartal pertama 2017 pertumbuhan ekonominya tumbuh sebesar 5,21% berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi menilai, perekonomian di berbadai daerah termasuk daerah-daerah di luar Jawab sudah mulai menggeliat alias tumbuh semakin cepat.
Dengan evaluasi PSN di Provinsi Bengkulu, Jokowi juga meminta adanya perhatian pada aspek pemerataan pembangunan antar wilayah. Sehingga, kata Jokowi, pertumbuhan ekonomi seharusnya difokuskan untuk menekan tingkat kesenjangan sosial.
Mantan Wali Kota Solo ini berkeyakinan, ke depannya perekonomian Provinsi Bengkulu akan bergerak lebih cepat lagi dan mampu menyelesaikan masalah konektivitas antar wilayah. Sebab, masih ada sekitar 48,7% atau sekitar 653 desa yang terisolir di Bengkulu.
"Untuk itu saya minta konektivitas harus menjadi perhatian dan harus ditingkatkan baik antar wilayah, dengan cara itu pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai tempat di Pulau Sumatera juga akan berdampak positif bagi perekonomian di Provinsi Bengkulu," tutupnya.
Satu jam berlangsung, rapat langsung masuk ke sesi 2. Gubernur Bengkulu pun meninggalkan ruangan, dan digantikan oleh Gubernur Riau.
Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan fokus pembahasan Riau adalah pada pertumbuhan ekonomi. Mengingat sumber ekonomi daerah ini adalah komoditas yang harganya sempat jatuh beberapa tahun lalu. Sekarang harga komoditas sudah mulai naik, dan diharapkan mampu berkontribusi terhadap ekonomi nasional.
"Masalah Riau, daerah ini sangat kaya. Saat ini tumbuh sagu dan kelapa. Presiden minta agar Riau bisa bantu pertumbuhan ekonomi tingkat nasional. Karena pertumbuhan 2016 relatif rendah karena tergantung komoditas sumber daya energi," kata Pramono usai rapat. (mkj/mkj)











































