Trump Sepakati Kerja Sama Miliaran Dolar dengan Vietnam

Trump Sepakati Kerja Sama Miliaran Dolar dengan Vietnam

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 01 Jun 2017 12:15 WIB
Trump Sepakati Kerja Sama Miliaran Dolar dengan Vietnam
Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membahas kerja sama perdagangan dengan Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc di Gedung Putih pada Rabu kemarin. Pertemuan ini berhasil menyepakati perjanjian bisnis senilai miliaran dolar dan pekerjaan baru yang akan tercipta.

General Electric Co sebelumnya mengungkapkan pihaknya sudah menandatangani kesepakatan dengan Vietnam senilai sekitar US$ 5,58 miliar untuk pembangkit listrik, mesin dan layanan pesawat terbang, ini merupakan perjanjian bisnis terbesar yang pernah ada dengan negara tersebut.

"Mereka membuat pesanan yang sangat besar di AS dan kami menghargai itu dengan jumlah miliaran dolar, yang berarti adanya lapangan kerja baru untuk AS dan peralatan canggih untuk Vietnam," kata Trump seperti dikutip dari CNBC, Kamis (1/6/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Phuc mengatakan pada Selasa lalu bahwa pihaknya akan menandatangani kesepakatan untuk barang dan jasa AS senilai US$ 15 miliar sampai US$ 17 miliar selama kunjungannya ke Washington, terutama untuk teknologi dan jasa.

Vietnam tak lagi menjadi musuh perang dingin AS dan kini menjadi mitra penting di Asia Pasifik, di mana kedua negara memiliki kekhawatiran yang sama tentang kekuatan China yang semakin kuat.

Phuc mengatakan kepada Trump bahwa hubungan tersebut telah mengalami pergolakan yang signifikan sepanjang sejarah yang kini menjadi mitra kerja sama.

Kedua negara telah meningkatkan kerja sama keamanan dalam beberapa tahun terakhir, namun kerja sama perdagangan menjadi fokus dengan defisit yang melebar dengan Vietnam mencapai US$ 32 miliar tahun lalu, jika dibandingkan US$ 7 miliar pada satu dekade sebelumnya.

Trump berkomitmen untuk membicarakan lebih lanjut perdagangan dengan Phuc dan juga Korea Utara. Washington juga tengah mencari dukungan untuk menekan langkah Korea Utara dalam menghentikan program nuklirnya yang sekaligus menjadi ancaman bagi AS. Vietnam juga memiliki kekhawatiran yang sama dengan AS terhadap Korea Utara.

Analis mengatakan, pemerintahan Trump menyambut baik kesepakatan bisnis baru dengan Vietnam yang ingin meningkatkan perdagangan antar kedua negara.

Murray Hiebert, seorang pakar Asia Tenggara di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington mengatakan bahwa kesepakatan itu bagus, tapi tidak cukup.

"Mereka ingin Vietnam membuat surplus perdagangan secara berkelanjutan," tuturnya.

Pada hari Selasa, Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer mengungkapkan kekhawatirannya tentang melebarnya defisit perdagangan dengan Vietnam. Dia mengatakan itu adalah tantangan baru bagi kedua negara dan dia mencari Phuc untuk membantu mengatasinya.

Defisit perdagangan dengan Vietnam mencerminkan meningkatnya impor semikonduktor Vietnam dan produk elektronik lainnya di samping sektor yang lebih tradisional seperti alas kaki, pakaian jadi dan perabotan.

Menteri Perdagangan Vietnam, Tran Tuan Anh mempresentasikan Lighthizer pada hari Selasa dengan saran untuk mengatasi beberapa masalah AS, seperti iklan di media sosial AS, layanan pembayaran elektronik dan impor produk keamanan informasi dan pertanian.

Vietnam juga mendesak Amerika Serikat untuk menghapus program inspeksi untuk ikan patin, mempercepat lisensi impor untuk buahnya dan membuat keputusan yang adil mengenai tindakan anti dumping dan anti subsidi untuk produk-produk Vietnam.

Vietnam kecewa saat Trump menolak perjanjian perdagangan Trans Pasifik Partnership (TPP) dengan 12 negara, di mana Hanoi diharapkan menjadi salah satu penerima manfaat utama, dan memfokuskan kebijakan perdagangan AS untuk mengurangi defisit.

Pertemuan Phuc dengan Trump menjadikannya pemimpin Asia Tenggara pertama yang mengunjungi Gedung Putih di bawah pemerintahan baru. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads