Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, berujar selesainya VTS tahap II ini tentunya bisa meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran di selat tersebut.
"VTS ini akan akan sangat membantu dalam pengawasan dan keselamatan di jalur utama Selat Malaka dan Selat Singapura. Ada 90.000 lebih kapal per tahun lewat, atau 1 kapal setiap 3 menit, ini menunjukan jalur tersebut sangat padat," kata Budi di kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (5/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jepang mengucurkan dana sebesar Β₯ 1,43 miliar untuk pembangunan VTS tahap kedua, yang meliputi pembangunan fisik VTS Sensor Station di Tanjung Medang dan Tanjung Parit, Repeater Station di Tanjung Sair, Simpang Ayam, dan Selincing, serta VTS Center di Dumai.
VTS tahap II ini menjangkau area di kawasan selat dengan radius 550 mil laut dari Horsburg (Singapura) sampai Tanjung Medang. Proyek VTS ini dibangun sejak Oktober 2010 dan selesai pada 10 Juni 2016 lalu. Sementara pada VTS fase I yang selesai dibangun Jepang tahun 2010 berada di Batam.
Sementara itu, Dubes Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii, mengatakan Jepang sangat berkepentingan atas pelayaran di Selat Malaka, sehingga bersedia membantu Indonesia dalam pembangunan sistem navigasi di perairan tersebut.
"Di Selat Malaka ada 90.000 kapal lebih yang lewat setiap tahunnya. Dari jumlah itu, sebanyak 14.000 kapal itu berkaitan dengan Jepang. Saya kira sejarah kerja sama Indonesia-Jepang sudah sangat lama," ujar Ishii. (idr/mca)











































