Salah seorang pemilik feedlot (sentra penggemukan sapi) yang juga merangkap sebagai pedagang sapi Ferry Kusmawan menuturkan, saat ini harga pakan sudah semakin tinggi, bahkan besaran kenaikan mencapai 20% untuk masing-masing pakan. Seperti pakan dedak gandum (polard) yang semula dijual dengan harga Rp 1.900-2.000 per kg, kini menjadi Rp 2.350-2.450 per kg.
"Harga pakan naik minimal 20%. Yang paling kecil Rp 200 dari Rp 2.900 sekarang Rp 3.100 per kg bungkil kopra. Bungkil sawit dari Rp 1000-1100 sekarang paling murah Rp 1300 bungkil sawit kita beli 20 ton," jelas Ferry dalam diskusi di Gedung Smesco, Jakarta, Senin (5/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga tersebut kemudian menjadi beban biaya yang dikeluarkan saat penggemukan. Sehingga harga sapi hidup yang semula dibeli dengan harga Rp 45-47 ribu per kg saat dijual dalam bentuk karkas sudah mencapai Rp 90 ribu per kg.
"Sebetulnya keefisienan harga daging itu memang diangka Rp 110 ribu. Rp 105 ribu itu memang sudah benar-benar mepet," ujarnya.
Menurutnya, daging dengan kulitas bagus dapat diperoleh dari 39-40% dari bobot hidup sapi. Sementara bila sapi dengan kualitas buruk biasanya hanya menghasilkan daging sekitar 35%.
Dengan demikian, saat pedagang bertahan di harga Rp 110 ribu, sementara kualitas daging yang dibelinya buruk, maka angka kerugian dapat sangat terlihat. Skema penyeimbangan sangat digunakan disini.
"Modalnya itu udah Rp 100-105 ribu itu. Kalau pedagang jual Rp 110 ribu ya boleh diitung, bolom karyawan, belom sewa kios, retribusi. lebih untung kalo daging di oplos," jelasnya.
Bisnis Pemotongan Hewan Lesu
Serbuan jutaan daging impor beku membuat bisnis ternak sapi potong ternyata semakin terpuruk, lantaran bisnis tersebut dinilai peternak sudah tidak menguntungkan.
Sekretaris Jenderal DPP Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf menuturkan, saat ini para peternak lokal sudah tidak lagi berorientasi pada bisnis ternak sapi potong harian, melainkan sudah berpindah menjadi bisnis jual beli sapi hidup dalam rangka Idul Adha (Lebaran Haji).
"Bisnis sapi potong sekarang, udah jelas mereka gak berani ngomong apa-apa. 4-5 perusahaan yang sudah menghentikan usahanya tahun ini. dan dia adalah tidak menguntungkan bisnisnya. Sekarang istilahnya tinggal panjang-panjangin usus," ungkap Rochadi.
Pasalnya harga yang dibanderol saat momen Lebaran Haji lebih tinggi. Sapi hidup saat Lebaran Haji mampu dihargai sebesar Rp 60-65 ribu per kg. Sementara harga sapi hidup untuk untuk kebutuhan sehari-hari Rp 47 ribu per kg.
"Peternak lokal orientasi produksi harian dijagal setiap hari. Sudah arahnya ke Lebaran Haji. Idul Adha Rl 60-65 ribu kalo ini Rp 47 ribu itu pun enggak laku. Artinya sekarang berubah jadi setahun sekali di Idul Adha," ujarnya.
Apalagi kebijakan yang diambil pemerintah saat ini, salah satunya menggelontorkan daging impor beku, dinilai peternak terlalu mengintervensi bisnis sapi potong lokal. Hal tersebut menyusul penyebaran daging impor beku yang mulai menembus pasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
"Dengan intervensi daging impor, ya udah bubar. Daging India juga sudah merangsek ke Jateng, Jatim. Peternakan rakyat seakan tidak boleh tumbuh," ujarnya. (mca/mca)











































