Hal ini disampaikan Susi saat berbicara di salah satu side event acara konferensi kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UN Ocean Conference. Side event itu bertema 'Forgotten Fisheries', yang diadakan di Kantor Pusat PBB, New York, Amerika Serikat, Senin (5/6/2027).
Susi mengatakan selama belum ada pemberantasan pencurian ikan atau Illegal Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing, Indonesia menderita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah Indonesia melindungi nelayan kecil. Jadi laut dan isinya perlu dijaga juga untuk melindungi generasi muda, sehingga tidak kesulitan mencari ikan," kata Susi.
Dalam forum ini, Susi juga memaparkan pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), konsisten melakukan pemberantasan Illegal Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing.
Kebijakan ini menimbulkan sampak positif, seperti konsumsi ikan rakyat Indonesia ya naik dari 36 kg per kapita per tahun menjadi 43 kg per kapita per tahun.
"Indonesia menderita karena illegal fishing. Karena itu 2 tahun saya menjabat, saya konsisten memberantas pencurian ikan," ujar Susi.
Dia mengatakan illegal fishing dilakukan dengan kapal yang tidak teregistrasi, dan yang dibawa tak hanya ikan Indonesia saja yang dicuri, tapi bahan bakar minyak (BBM) dari Indonesia yang diselundupkan.
Susi sadar nilai bisnis perikanan yang dihadangnya mencapai miliaran dolar. Pasti ada perlawanan dari pengusaha pelaku pencurian ikan. Namun dia tidak gentar.
"Sekarang selain ikan melimpah, kami juga membantu menghemat konsumsi BBM hingga 37%. Ekspor ikan juga baik dan impor berkurang. Jadi pemberantasan IUU Fishing akan menguntungkan kita," jelas Susi.
Dia mengatakan, sekarang nelayan kecil bisa mendapatkan ika tuna dengan mudah dekat pantai.
"Banyak yang bilang nelayan kecil bukan industri. Padahal tidak seperti itu. Kalau kapal besar dan pengolahan terus ada, bisa menghancurkan laut kita semua," papar Susi. (dnl/ang)











































