"Tumbuh lebih dari 5,1% atau mungkin 5,3% atau 2 sampai 3 tahun akan datang bisa 7%. Investasi kita arahkan masuk. Karena salah satu harapan untuk tumbuh di atas 5,1% atau mencapai 5,3% adalah peningkatan investasi," kata Wakil Ketua KEIN, Arief Budimanta, di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (13/6/2017).
Untuk mencapai target tersebut, strategi yang dapat dapat diterapkan oleh pemerintah, antara lain menjaga pertumbuhan ekspor dan mendorong investasi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi 2017. Setidaknya pertumbuhan ekspor bisa terjaga pada posisi 7,31% dan pertumbuhan impor dibatasi maksimum 5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan nilanya mencapai 61,04% parsen," papar Arif.
Selain itu, strategi peningkatan investasi ke dalam negeri bisa dilakukan dengan mengembangkan pola investasi secara bilateral dan mengembangkan investasi sesuai kebutuhan daerah. Terlebih lagi dengan diberikannya peringkat Investment Grade oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor's kepada Indonesia, sangat memungkinkan untuk menjaring investasi langsung.
"Peringkat tersebut merupakan modal besar untuk menarik investor," kata Arif.
Untuk tingkat konsumsi yang juga menjadi faktor panting dalam pertumbuhan. pemerintah perlu menjaga agar inflasi tetap stabil agar tidak mengganggu tingkat konsumsi rumah tangga. "Pada kuartal pertama tahun 2017 ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, sehingga menyebabkan tingkat konsumsi melambat," katanya.
Arif mengingatkan agar pemerintah menjaga tingkat inflasi agar mendorong tingkat konsumsi rumah tangga. Terkait dengan hal itu, stabilitas harga barang menjadi sangat panting, terutama barang kebutuhan pokok. Sebab selama ini, 65% konsumsi rumah tangga miskin disumbangkan oleh komponen bahan makanan. Seandainya harga tidak stabil, dapat membuat. pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas lantaran kemiskinan berpotensi naik.
Dari hasil kajian KEIN terhadap seluruh provinsi di Indonesia hingga 2016, sebanyak 42% provinsi di Indonesia memiliki pertumbuhan yang tidak stabil. Sedangkan pada kuartal I-2017 ada 39% provinsi yang pertumbuhunnya di bawah rata-rata pertumbuhan nasional.
"Stabilitas pertumbuhan daerah-daerah ini kalau dijaga akan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi nasional," papar Arief. (hns/hns)











































