"Nah ini perlu kita selidiki. Karena penyebabnya pertama, bisa karena ongkos produksi di negara lain lebih rendah dibanding kita. Jadi kita menghasilkan per kg beras berarti lebih mahal dari negara lain," ungkap Ketua KPPU Syarkawi Rauf kepada detikFinance, Minggu (18/6/2017).
Menurutnya kondisi ini perlu mendapat pembenahan lebih serius dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Padahal menurut Syarkawi, dari sisi produksi beras nasional sendiri, jumlahnya sudah cukup berlimpah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu faktor lain seperti rantai distribusi yang terlalu panjang disadari KPPU juga membuat harga di tingkat pengecer lebih mahal dibandingkan negara lain. Dengan demikian Syarkawi menganggap, upaya ini yang perlu ditiru dari negara lain.
"Kedua, jangan-jangan faktor rantai distribusi kita yang terlalu mahal yang membuat harga di end user itu terlalu tinggi dibandingkan negara lain yang lebih efisien dari sisi rantai distribusi," ujarnya.
Sementara dugaan terakhir menurut Syarkawi yakni, adanya pola penjualan beras dari negara lain ke pasar internasional dengan harga yang lebih murah, lantaran kelebihan pasokan stok.
"Ketiga, jangan sampai ada pola di negara lain itu mereka kelebihan produksi sehingga dijual ke pasar internasional dengan harga yang lebih murah dibanding harga di dalam negerinya sendiri," terangnya. (mkj/mkj)










































