Triwulan I/2005
BI: Investasi Tumbuh 16-16,5%
Senin, 02 Mei 2005 11:17 WIB
Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan pada triwulan I-2005 ini ekonomi Indonesia akan mampu tumbuh 5-5,5 persen sesuai dengan perkiraan semula. Pertumbuhan tersebut dicapai dengan pola ekspansi yang lebih berimbang dengan peran investasi semakin meningkat yakni mencapai 16-16,5 persen."Peningkatan investasi ini telah mendorong meningkatnya impor terutama impor bahan baku dan barang," demikian pengumuman kinerja triwulan I-2005 Bank Indonesia yang dipublikasikan Senin (2/5/2005).Sementara itu, ekspor masih tumbuh positif meskipun terbatas dan lebih bertumpu pada komoditas berbasis sumber daya alam dan produk industri yang terkait dengan hasil pertanian. Kinerja ekspor diperkirakan tumbuh 8,6-9,1 persen dan impor tumbuh 18-18,5 persen.Tekanan inflasi meningkat cukup tinggi pada triwulan I-2005 hingga IHK tercatat sebesar 8,81 persen (year on year) dengan inflasi inti 7,17 persen. Tingginya inflasi terutama disebabkan oleh kenaikan harga BBM dan meningkatnya ekspektasi inflasi masyarakat sebelum dan sesudah pengumuman kenaikan harga BBM serta melemahnya nilai tukar rupiah.Berdasarkan kelompok barang, peningkatan inflasi tersebut terutama disumbangkan oleh inflasi kelompok jasa transportasi dan komunikasi yang sebagian besar diakibatkan oleh kenaikan harga BBM dan tarif angkutan. Kelompok barang lain yang mengalami inflasi cukup tinggi adalah kelompok makanan jadi sehubungan dengan kenaikan harga gula pasir dan rokok.Rupiah MelemahBank Indonesia juga menyebutkan selama triwulan I-2005 ini rupiah mengalami tekanan depresiatif namun dengan volatilitas yang relatif rendah. Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan I-2005 tercatat sebesar Rp 9.279 per US$ 1 atau terdepresiasi 1,7 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kecenderungan pelemahan rupiah tersebut akibat dari tingginya permintaan valas domestik yang belum diimbangi oleh pasokan valas yang memadahi.Pasokan valas masih terbatas terutama akibat aliran devisa hasil ekspor yang belum optimal, aliran modal masuk masih terbatas dan didominasi oleh portofolio investment serta sebagian devisa migas masuk ke cadangan devisa.
(san/)











































