Ekonom dari PT Bank Central Asia (BCA), David Sumual, mengatakan sektor paling terpapar positif dari budaya pulang kampung adalah sektor kuliner, transportasi, dan pariwisata.
"Yang paling bergairah itu terutama transportasi, makanan, dan pariwisata. Kalau sektor lain seperti manufaktur dan pertanian kan memang melambat saat Lebaran karena libur," jelas David kepada detikFinance, Kamis (22/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sulit diperkirakan, mungkin sekitar Rp 70 triliun. Satu pemudik bisa mengeluarkan Rp 2 juta, ada yang Rp 3 juta, ada yang Rp 15 juta. Yang pasti lebih banyak untuk belanja makanan minuman, transportasi, dan wisata di daerah. Ini yang menggerakkan ekonomi di daerah-daerah," terang David.
Senada, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, berujar aliran deras uang dari kota yang warganya mudik ini meningkatkan gairah usaha-usaha kecil dan menengah di daerah-daerah, terutama di sektor makanan minuman, hiburan, dan transportasi.
"Pemudik otomatis bawa uang banyak yang selanjutnya meningkatkan konsumsi di daerah, mereka menghabiskan uang terbanyak di restoran-restoran, tempat hiburan, transportasi, juga sektor jasa lainnya. Tapi ini kan sifatnya tak lama," ungkap Josua.
Namun meski ada peralihan perputaran uang ke daerah-daerah, efek ekonomi dari mudik sendiri masih sebagian besar berputar di Jawa dan sebagian Sumatera.
"Mudik kan masih didominasi di Jawa dan sebagian Sumatera yang paling ramai. Karena asal pemudiknya memang juga dari daerah-daerah di Jawa," kata Joshua. (idr/mkj)











































