Sektor Pertanian Dominasi Pertumbuhan Ekonomi Sulteng

Sektor Pertanian Dominasi Pertumbuhan Ekonomi Sulteng

- detikFinance
Senin, 02 Mei 2005 16:38 WIB
palu - Pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah tahun 2004 lalu mengalami peningkatan. Badan Perencaan Pembangunan (Bappeda) Sulawesi Tengah melaporkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan harga konstan meningkat menjadi 2,99 triliun dari Rp 2,81 triliun pada tahun 2003 lalu."Indikasi tersebut menunjukkan adanya kemajuan yang cukup signifikan dalam pertumbuhan ekonomi daerah," kata Kepala Bappeda Sulteng, David Halim kepada wartawan di Palu, Senin (2/5/2005), di Kantor Gubernur Sulteng, Jalan Sam Ratulangi, Palu Timur.Dilihat dari sektor ekonomi, katanya, laju pertumbuhan tertinggi berada pada sektor listrik, gas dan air bersih, yakni sebesar 11,72 perseb, diikuti oleh sektor transportasi dan komunikasi dengan pertumbuhan sebesar 8,08 persen, dan yang paling kecil adalah sektor pertambangan dan penggalian.Menurutnya, dari semua itu sektor ekonomi yang mendorong PDRB, pertanian masih mendominasi laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah dengan kontribusi sebesar 48,7 persen pada tahun 2004. Dengan demikian, lanjutnya, berarti struktur perekonomian Sulteng masih bercorak agraris. Mengenai inflasi, Kepala Bappeda Sulteng menjelaskan, tahun 2001 inflasi Sulteng tercatat sebesar 18,73 persen, tahun 2002 menurun menjadi 13,36 persen danpada keadaan Januari hingga Agustus 2004 inflasi Sulteng menurun menjadi 7,01 persen. "Inflasi ini akan semakin menurun jika Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Palu dan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Sulewana Poso telah beroperasi. Sebab, inflasi akhir-akhir ini meningkat karena didorong oleh beberapa tarif yang ditetapkan pemerintah seperti kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik dan telepon," katanya.Saat ini, PLTU di Palu dan PLTA Sulewana Poso sedang dalam tahap pembangunan. PLTU ini diperkirakan akan mampu menyuplai listrik bagi seluruh wilayah di Kota Palu, sedangkan PLTA Sulewana akan mampu menyuplai listrik untuk Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan dan sebagian Provinsi Gorontalo.Selanjutnya, Kepala Bappeda Sulteng melaporkan bahwa dari segi perdagangan, neraca perdagangan Sulteng berada pada posisi yang mengembirakan, yang ditandai dengan terjadinya surplus setiap tahunnya. Sub sektor perkebunan, kehutanan dan perikanan merupakan komoditas penyumbang terbesar bagi devisa Sulteng. Nilai ekspor Sulteng tahun 2003 mencapai US$ 157.466 dengan volume 123,602 ton. Sedangkan kondisi bulan Januari-Agustus 2004 US$ 123,671. Dari nilai eksport tersebut,80,24 persen di antaranya adalah eksport hasil non industri. "19 negara menjadi tujuan ekspor Sulteng," ujar David Halim.Meski demikian, David Halim mengatakan bahwa yang menjadi permasalahan pembangunan Sulteng saat ini adalah soal penduduk miskin. Pada awal krisis ekonomi, penduduk miskin Sulteng mencapai 34,09 persen, tahun 1999 jumlah penduduk miskin menurun menjadi 28,69 persen, tahun 2003 jumlah penduduk miskin dapat ditekan lagi menjadi 24,89 persen atau 564.600 jiwa, dan tahun 2003 jumlah penduduk miskin Sulteng menjadi 23,04 persen atau 509.100 jiwa."Konsentrasi penduduk miskin di perdesaan tercatat sebanyak 24,42 persen atau 430.000 jiwa, sedangkan di perkotaan sebanyak 17,61 persen atau 79.100 jiwa," tandas David Halim. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads