Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 28 Jun 2017 21:35 WIB

Menengok Pabrik Gula Peninggalan Belanda Berusia 175 Tahun

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Muhammad Idris/detikFinance Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Brebes - Manisnya komoditas gula saat zaman Hindia Belanda, khususnya pasca era tanam paksa (cultuur stelsel) tahun 1830, membuat investasi perkebunan gula partikelir bermunculan. Pabrik gula (PG) pun dibangun di sejumlah daerah, khususnya di Pulau Jawa.

Salah satu yang terbesar yakni yang PG Jatibarang yang berada di Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes. Pabrik tersebut dibangun perusahaan swasta Belanda, NV Mijtot Exploitile der Surker Onderneming, pada tahun 1842. Dan berperan penting menggiling tebu dari perkebunan-perkebunan di wilayah Brebes dan Tegal.

Saat ini, PG Jatibarang dikelola oleh PTPN IX, dan hanya beroperasi menggiling saat musim panen tebu. Baik bangunan maupun mesin-mesin PG Jatibarang sudah terlihat menua.

Pabrik gula peninggalan Belanda di BrebesPabrik gula peninggalan Belanda di Brebes Foto: Muhammad Idris/detikFinance

Hanya cerobong asap yang menjulang tinggi di pinggir jalan raya yang jadi penanda kejayaan PG Jatibarang pada masanya dulu sekitar tahun 1840-an sampai kemudian dinasionalisasi menjadi BUMN pasca kemerdekaan.

Cerobong asap PG menjulang tinggi persis di pinggir Jalan Raya Jatibarang yang menghubungkan Brebes dengan Kota Slawi yang jadi ibukota Kabupaten Tegal. Sebuah angka 1842 di badan cerobong, menjadi penanda pabrik tersebut sudah berusia 175 tahun.

Pabrik gula peninggalan Belanda di BrebesPabrik gula peninggalan Belanda di Brebes Foto: Muhammad Idris/detikFinance

Meski sudah dimakan usia, PG Jatibarang terbilang masih bernasib lebih beruntung. Dua PG lainnya yang berada di Brebes, yakni PG Kersana dan PG Banjaratma, saat ini sudah tak lagi beroperasi dan menjadi besi tua. Selain mesin yang menua, semakin menyempitnya lahan tebu menjadi penyebab banyaknya PG peninggalan Belanda gulung tikar.

Supervisor Agrowisata PG Jatibarang, Amiruddin, mengatakan PG Jatibarang masih beroperasi selama 4 bulan dalam setahun. Yakni saat musim giling panen tebu pada sekitar bulan Mei hingga Agustus.

"PG Jatibarang masih beroperasi menggiling tebu, operasinya sekitar 4 bulan dalam setahun. Ini tak beroperasi karena libur Lebaran," kata Amir kepada detikFinance, Rabu (28/6/2017).

Pabrik gula peninggalan Belanda di BrebesPabrik gula peninggalan Belanda di Brebes Foto: Muhammad Idris/detikFinance

Saat panen tebu, biasanya karyawam PG dan masyarakat di sekitar PG menggelar acara tahunan berupa hiburan rakyat dan pasar malam selama hampir setengah bulan penuh yang biasa dikenal dengan metikan. Metikan berasal dari kata metik, yang berarti panen atau memetik tebu.

Banyak beberapa aset PG Jatibarang terbengkalai. Salah satunya yakni lori beserta lokomotifnya yang dulunya dipakai sebagai angkutan tebu dari perkebunan ke pabrik. Saat awal dibangun, PG Jatibarang memiliki jaringan rel lori sepanjang ratusan kilometer yang membentang ke perkebunan-perkebunan tebu di Brebes dan Tegal.

Saat ini, di sejumlah tempat, besi-besi dari rel lori tersebut tak berbekas. Di beberapa tempat, tanah lintasan rel lori tebu PG Jatibarang sudah beralih fungsi jadi tempat usaha dan rumah warga.

Lori bekas pabrik gula peninggalan Belanda di BrebesLori bekas pabrik gula peninggalan Belanda di Brebes Foto: Muhammad Idris/detikFinance

Lori-lori besi pengangkut tebu dibiarkan tergeletak di belakang pabrik gula. Beberapa di antaranya masih difungsikan untuk angkutan tebu dari timbangan ke dalam area produksi.

Di bagian Selatan PG, terdapat remise atau stasiun lori tebu. Dari sisi arsitektur maupun ukuran, remise PG Jatibarang merupakan yang terbesar dan termegah dibandingkan dengan PG lainnya yang dibangun di era cultuurstelsel. Selain stasiun, remise juga sebagai tempat menginap loko. Bangunan remise PG Jatibarang kondisinya masih cukup baik.

"Sekarang lorinya hanya berfungsi untuk membawa tebu dari timbangan ke dalam pabrik. Kalau sebelumnya tebu itu dari perkebunan diangkut pakai lori, sekarang diganti truk, truk angkut tebu sampai timbangan saja," ujar Amir.

Untuk memaksimalkan peninggalan Belanda tersebut, PTPN IX menjadikan beberapa aset PG Jatibarang sebagai tempat rekreasi. Salah satunya rumah adminitratur atau kepala pabrik yang kini dijadikan museum dan agrowisata.

Lokomotif lori bekas pabrik gula peninggalan Belanda di BrebesLokomotif lori bekas pabrik gula peninggalan Belanda di Brebes Foto: Muhammad Idris/detikFinance

Lokomotif dari lori tebu yang masih bisa dipakai, disulap jadi kereta wisata yang menjadi daya tarik agrowisata Mbesaran atau rumah besar administratur. Rumah Mbesaran yang pada zaman Hindia Belanda digunakan sebagai tempat tinggal keluarga Belanda yang jadi pimpinan pabrik, saat ini masih aktif digunakan sebagai rumah dinas.

"Mbesaran masih jadi rumah dinas, hanya memang jarang ditinggali pimpinan (PG). Ini untuk memaksimalkan aset perusahaan," ungkap Amir yang sebelumnya bekerja di bagian limbah PG Jatibarang. (idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed