Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan tutupnya Sevel di Indonesia lantaran manajemen perusahaan terlalu mengandalkan profit dari margin produk yang dijual, sehingga kalah bersaing dengan pesaing.
"Kalau menurut saya sebagai bisnis modelnya dia terlalu mengandalkan profit perdagangan. Kalau kita lihat yang lain seperti minimarket lain itu ambil profitnya sedikit sekali. Mereka mengambilnya dari perusahaan-perusahaan yang memasukan barang ke mereka," jelas Darmin ditemui usai Halalbihalal di kantornya, Senin (3/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diungkapkannya, model bisnis jaringan ritel asal Amerika Serikat ini juga dianggap kurang pas diterapkan di Indonesia.
"Sebenarnya itu adalah persaingan bisnis model. Grup Sevel bisnis modelnya lain, dia sebenarnya izinnya saja kelihatannya restoran dan selalu dipemukiman. Karena restoran tidak boleh di permukiman. Jadi bukan ritel," terang Darmin.
Terkait kebijakan larangan minumann beralkohol (minol) dijual di minimarket, hal tersebut bukan alasan penjualan Sevel merosot sehingga berkontribusi pada tutupnya gerai. "Jangan dihubungkan dengan minol, itu sangat kecil sekali," pungkasnya.











































