Sri Mulyani optimistis target itu bisa tercapai karena pemerintah tak mengubah faktor administered price. Harga pangan yang selama ini menjadi pemicu utama inflasi bisa dikendalikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, andil bahan pangan terhadap inflasi Juni cukup kecil, yaitu 0,14%. Padahal, harga bahan pangan sempat melonjak selama Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menjaga laju inflasi, menurut Sri Mulyani, di semester II-2017 harus lebih cermat melihat perkembangan harga komoditas hingga nilai tukar.
"Kita tetap harus hati-hati untuk menjaga dan ingin memperkuat momentum positif di kuartal II ini, mengenai stabilitas, confidence, investment grade, itu kita harap akan bisa kita kapitalisasi atau manfaatkan di semester II," jelas Sri Mulyani.
Ia menambahkan puncak inflasi pada 2017 terjadi di pertengahan tahun, saat Lebaran hingga tahun ajaran baru sekolah.
"Sehingga memang dari demand side untuk inflasi, yang paling puncak adalah di sini. Kalau dilihat dari sisi supply side, seharusnya untuk pangan, makanan, puncaknya ada di kuartal-I, pada Maret-April, dan sekarang musim hujan agak panjang sampai Juni-Juli, sehingga kami lihat dari sisi makanan, kami harapkan tidak ada tekanan inflasi dari sisi demand," tutur Sri Mulyani (hns/hns)











































