"Pada saat harga gula di Indonesia lebih mahal, maka orang mengambilnya dari Serawak. Karena kalau dia harus beli di Jawa, berapa ongkosnya sampai ke perbatasan. Kita tidak bisa seperti itu, harus memahami juga apabila masyarakat kita dipaksa beli barang di negeri sendiri," kata JK di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (11/7/2017).
Jika pemerintah memperketat arus barang yang masuk dari Malaysia, di sisi lain harga barang dari Jawa mahal, maka hal tersebut malah berdampak buruk pada daya beli masyarakat perbatasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau orang di Kalimantan Utara untuk mendatangkan sesuatu dari Jawa tentu sangat mahal. Tapi lebih dekat dengan Serawak, kadang-kadang perlu," tambahnya.
Menurut JK, tren masyarakat di perbatasan yang lebih menyukai membeli barang dari negara tetangga adalah suatu hal yang wajar. Di Papua, banyak pula warga Papua Nugini yang berbelanja ke Indonesia.
"Orang Kalimantan dan Sulawesi apabila ingin beli barang-barang yang pada waktu itu dianggap mewah itu biasanya datang ke Tawau. Hal ini sekarang sudah banyak yang terbalik. Di mana seperti orang Papua Nugini untuk membeli barang di perbatasan di Papua," pungkasnya. (idr/wdl)










































