Kementan: Harga Beras RI Bukan yang Termahal

Kementan: Harga Beras RI Bukan yang Termahal

Niken Widya Yunita - detikFinance
Jumat, 14 Jul 2017 11:12 WIB
Kementan: Harga Beras RI Bukan yang Termahal
Beras (Foto: Dony Indra Ramadhan)
Jakarta - Produksi padi pada 2016 yakni 79,4 juta ton gabah kering giling. Produksi padi ini naik 8,3 juta ton atau 11,7 persen dibandingkan pada 2014.

"Petani padi akan menikmati margin apabila harga yang diterima memadai. Bahwa harga beras Indonesia dibanding negara lain tidaklah termahal," ungkap Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono, dalam keterangan tertulis dari Kementan, Jumat (14/7/2017).

Hari mengatakan rerata harga beras pada konsumen pada Januari 2017 yakni Rp 10.698 per kilogram. Harga tersebut lebih rendah -0,98 persen dibandingkan Januari 2016. Selanjutnya berturut-turut Februari 2017 lebih rendah -1,76 persen, Maret -2,39 persen, April -1,37 persen dan Mei lebih rendah -0,09 persen dibandingkan bulan sama pada 2016.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut Hari mengatakan, pada 2017 ini harga gabah maupun harga beras berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yaitu Rp 3.700 per kilogram gabah kering panen dan Rp 7.300 per kilogram beras. Rerata harga beras pada Juni 2017 yakni Rp 10.597 per kilogram. Pada Januari-Juni 2017 harga beras terkendali dan petani masih dapat menikmati margin yaitu Rp 65,7 triliun setahun.

Data pada Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) terlihat harga beras medium pada minggu pertama Juli 2017 yaitu IR 64-3 Rp 8.200 per kilogram, IR64-2 Rp 9.000 per kilogram dan IR64-1 Rp 10 ribu per kilogram dan stok beras PIBC saat ini tersedia cukup banyak yakni 39.758 ton.

Hari mengatakan, harga beras di Indonesia dibentuk oleh berbagai faktor seperti sistem produksi, logistik, distribusi, tata niaga serta kondisi geografis negara kepulauan di Indonesia. Berbagai upaya telah dan akan dilakukan guna meningkatkan kualitas dan daya saing beras Indonesia. Membangun infrastruktur irigasi 3 juta hektare, embung 30 ribu unit, mekanisasi dengan alat mesin pertanian 80 ribu unit per tahun, efisiensi produksi, memperpendek rantai pasok dan tata niaga beras. Hasil yang diharapkan yakni produk Indonesia akan berdaya saing dan harga kompetitif.

Harga beras beberapa negara menunjukkan lebih mahal dari harga beras rerata nasional Indonesia. Data bersumber dari Bloomberg dan World Bank pada 24 Juni 2013, harga beras di Jepang Rp 48.779/kg, Korea Selatan Rp 35.833/kg, Singapura Rp 27.501/kg, Taiwan Rp 22.482/kg, Amerika Serikat Rp 22.081/kg, Turki Rp 18.181/kg, China Rp 11.441/kg, Thailand Rp 11.241/kg, Malaysia Rp 11.241/kg, Philipina Rp 9.133/kg, dan Vietnam Rp 7.126/kg.

Data sumber newsletter blog API, harga beras pada 126 negara, termahal terjadi di Negara Bermuda US$ 5,70/kg dan termurah di Egypt US$ 0,54/kg. Untuk diketahui bahwa harga beras Indonesia pada Maret 2017 yakni US$ 0,79/kg yang berarti berada pada urutan ke-116 dari 126 negara. Sebagai pembanding data Bloomberg pada 11 Juni 2017 disebutkan harga beras rerata internasional Rp 11.830/kg setara dengan US$ 0,89/kg (kurs Rp 13.290/USD)..

"Dari data di atas menunjukkan tidak benar bila disebutkan harga beras Indonesia termahal di Dunia," imbuhnya.

Menurut Hari, pencapaian swasembada pangan itu ditujukan untuk ketahanan pangan dan sekaligus untuk mensejahterakan petani.

"Kenapa dalam pikiran para pengamat bahwa petani selalu diposisikan untuk dimarginalkan. Padahal untuk dipahami sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945 bahwa pemerintah hadir untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya," ucap Hari. (nwy/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads