Di usia pemerintahan kabinet kerja yang sudah 2,5 tahun juga rupanya akan memberikan dampak terhadap banyak sektor. Salah satunya dunia usaha.
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menilai, jika benar Presiden Jokowi akan melakukan reshuffle maka diharapkan sebagai aksi yang terakhir kalinya dilakukan sepanjang masa kepemimpinan kabinet kerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tutum mengatakan, yang perlu dihindari oleh Presiden Jokowi dalam aksi perombakan jajaran para menterinya juga bukan karena pembagian jatah kursi kepada partai politik. Melainkan, kepada kapabilitas dan kinerja menteri tersebut.
Dia menilai, perekonomian Indonesia saat ini sudah berjalan dengan baik, hanya saja perlu banyak terobosan untuk mengimbangi perkembangan ekonomi global.
"Ada beberapa pos yang tidak meletakkan dasar-dasar perekonomian untuk jangka panjang, yang dilakukan hanya sebatas pemadam kebakaran, padahal negara yang kuat fundamentalnya yang bagus, tidak terombang-ambing oleh faktor eksternal terus," ungkap dia.
Oleh karena itu, Tutum menilai, jika Mantan Wali Kota Solo ini kembali melakukan reshuffle, harus dipastikan menjadi perombakan yang terakhir kalinya di sisa waktu hingga 2019.
Sebab, bongkar pasar menteri secara tidak langsung memberikan dampak bagi dunia usaha di Indonesia.
"Pasti, karena perlu penyesuaian kebijakan lagi, dan biasanya pasti mengeluarkan kebijakan yang populis," tukas dia. (mkj/mkj)











































