Kota Palangka Raya bahkan didesain sendiri langsung oleh tangan Sukarno. Konon Sukarno yang seorang insinyur itu memimpikan sebuah Ibu Kota negara yang dirancangnya sendiri. Lantaran Jakarta, sudah memiliki desain sendiri, peninggalan Belanda yang relatif sulit diubahnya.
Kota ini benar-benar dibangun dari nol oleh Sukarno. Pemancangan tiang pertama pembangunan kota dilakukan sendiri olehnya pada 17 Juli 1957. Palangka Raya pun dirancang langsung olehnya mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dan kawasan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dok. 20detik |
Luas kotanya hampir 4 kali lipat jika dibandingkan dengan Jakarta yang memiliki luas 660 Km2, yakni sekitar 2.400 km2. Hal ini membuat kondisi jalan yang ada di kota ini hampir semuanya lebar, ditambah dengan jumlah penduduk yang hanya sekitar 370 ribu orang, sehingga penduduk setempat praktis tak mengenal kata macet, seperti yang dirasakan hampir semua kota di tanah air.
Hal ini pun membuat pengakuan mereka yang baru bermukim di Kota Palangka Raya dapat langsung mengatakan kota ini sangat nyaman, lancar, dan lengang, lantaran akses kemana-mana menjadi mudah.
Pembangunan pun belum terlalu masif di kota ini. Hanya ada satu pusat perbelanjaan modern, dan satu bioskop yang berada persis di dekat bundaran besar. Namun kini pertokoan tampak mulai masif pada sepanjang jalan-jalan protokol, termasuk jaringan retail modern seperti Alfamart dan Indomaret, serta penginapan dan hotel yang mulai menjamur.
Foto: Dok. 20detik |
Masyarakat awal kota Palangka Raya yang berada di Desa Pahandut di tepi sungai banyak memanfaatkan sungai sebagai sumber perekonomiannya. Meski zaman telah semakin berkembang, transportasi sungai seperti kapal kelotok pun masih belum ditinggalkan oleh penduduk sekitar.
Sedangkan di darat, transportasi yang bisa temui adalah angkot, walaupun masyarakat lokal pada umumnya menyebut taksi. Angkot ini biasa beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga sore hari.
Kota ini juga dikenal dengan keramahan penduduk lokal yang sangat menghargai yang namanya keberagaman. Tak salah bila Provinsi tempat kota ini bernaung disebut sebagai Bumi Pancasila, lantaran harmonisnya hubungan warga di tengah keberagaman agama, suku dan etnis yang ada.
Foto: Dok. 20detik |












































Foto: Dok. 20detik
Foto: Dok. 20detik
Foto: Dok. 20detik