Asia Harus Perkuat Kerjasama

Hasil Pertemuan ke-38 ADB

Asia Harus Perkuat Kerjasama

- detikFinance
Sabtu, 07 Mei 2005 11:22 WIB
Jakarta - Presiden ADB (Asian Development Bank) Haruhiko Kuroda menyerukan kepada negara-negara di Asia untuk lebih mempererat kerjasama di bidang ekonomi. Seluruh delegasi yang datang dalam pertemuan ADB itu juga menyatakan dukungan atas seruan tersebut.Pernyataan Kuroda itu disampaikan saat menutup pertemuan tahunan ke-38 ADB yang berlangsung antara 4-6 Mei 2005 di Istanbul, Turki, seperti dilansir Dow Jones, Sabtu (7/5/2005).Kuroda menyampaikan, seluruh delegasi yang datang dalam pertemuan tahunan ADB itu memberikan komitmen dan dukungannya atas 3 langkah usaha untuk meningkatkan kerjasama dan integrasi ekonomi regional melalui bantuan pembelanjaan infrastruktur, kerjasama bidang keuangan serta perdagangan dan investasi."Gubernur mencatat bahwa Asia telah memasuki era baru dalam pembangunan yang dikarakteristikkan dengan pertumbuhan yang dinamis, meningkatnya ketergantungan satu sama lain dan tingginya perekonomian dunia yang tidak pernah dicapai sebelumnya," ujar Kuroda yang juga mencatat pertumbuhan yang tidak seragam dari kawasan Asia ini. Kuroda menekankan, bahwa untuk memperbesar ekonomi Asia, maka sejumlah negara kecil dan menengah harus memperolah manfaat dari peningkatan kerjasama keuangan, kerjasama perdagangan dan investasi serta bantuan dana untuk infrastruktur. "Untuk mereka, kerjasama ekonomi regional adalah kuncinya," tegas Kuroda.Kuroda juga menyampaikan soal kesepakatan menteri keuangan negara Asean ditambah Cina, Jepang dan Korea Selatan atau biasa disebut ASEAN+3 yang setuju untuk meningkatkan dan memperluas swap bilateral senilai US$ 39,5 miliar. "Hal yang mendasar adalah membuat pengaturan, instrumen pengaturan swap bilateral secara lancar dan efisien," tutur Kuroda. Selanjutnya Kuroda mendesak negara-negara Asia untk terus meneruskan perjanjian perdagangan bebas di kawasan ini dengan mencatat bahwa kerjasama yang baik sebagai hal yang penting. Terkait tingginya harga minyak dunia, Kuroda mencatat hal tersebut sebagai risiko bagi perekonomian kawasan ini dalam jangka pendek dan menengah. "Saya kira, tantangan yang terbesar adalah tingginya harga minyak. Jika tingginya harga minyak terus berlanjut dalam satu atau dua tahun ke depan, maka betul-betul akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan," tegas Kuroda.Kuroda juga mencatat bahwa negara eksportir minyak seperti Malaysia juga akan tetap menderita akibat tingginya harga minyak ini melalui efek "putaran kedua" yakni setelah melemahnya perekonomian kawasan ini. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads