Prihatin Harga Minyak, ASEM Serukan Energi Alternatif

Prihatin Harga Minyak, ASEM Serukan Energi Alternatif

- detikFinance
Sabtu, 07 Mei 2005 15:49 WIB
Jakarta - Para Menteri Luar Negeri Asia dan Eropa memprihatinkan tingginya harga minyak dunia dan menyerukan pengembangan sumber-sumber energi alternatif, termasuk energi nuklir. Dalam pernyataan bersama yang dibuat dalam pertemuan Asia-Europe Meeting (ASEM), Sabtu (7/5/2005) seperti dilansir AFP, mereka menyatakan "prihatin atas dampak tingginya harga minyak dunia terhadap perekonomian dunia yang terus berlanjut".Dalam pernyataan itu disebutkan, permintaan akan minyak dunia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan yang cepat di Asia. Para menteri luar negeri itu selanjutnya menyerukan peningkatan keamanan energi melalui konservasi energi, peningkatan efisiensi penggunaan energi dan memperluas penggunaan sumber-sumber energi alternatif, termasuk tenaga nuklir di negara-negara yang telah memiliki sumber energi nuklir sebagai pilihan. Sementara pejabat pemerintahan Jepang menyatakan, dalam pertemuan dua hari yang berlansung di Kyoto, Jepang tersebut, seluruh delegasi menyatakan keprihatinan yang mendalam atas tingginya harga minyak. "Para delegasi mencatat bahwa harga minyak dunia telah melonjak dan berbagai usaha telah ditempuh dengan menggunakan sumber-sumber energi lainnya," ujar pejabat tersebut. "Semua delegasi yang membuat pernyataan hari ini setuju tentang pentingnya keamanan energi Negara-negara anggota ASEM dan juga menyatakan penting bagi ASEM untuk bekerjasama dalam masalah energi dan mereka harus terus memperkuat kerjasamanya," demikian pejabat pemerintahan Jepang tersebut. ASEM merupakan forum dialog antara menteri 25 negara Uni Eropa dan 13 negara Asia yang terdiri dari 10 anggota Asean yakni Brunai, Myanmar, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam plus Jepang, Cina dan Korea. Dalam pertemuan yang berlangsung 6-7 Mei ini, salah satu agendanya adalah memperkuat kerjasama multilateral dan memperkuat peranan PBB, termasuk reformasi institusi PBB, ancaman atas keamanan termasuk terorisme, senjata pemusnah masal dan organisasi kriminal. Selain itu akan dibahas pula tentang masalah di Korea, Myanmar dan Timur Tengah, dan juga berbagai permasalahan ekonomi. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads