Export Credit Agency OECD Naikkan Peringkat RI

Export Credit Agency OECD Naikkan Peringkat RI

- detikFinance
Senin, 09 Mei 2005 11:53 WIB
Jakarta - Menteri Keuangan Jusuf Anwar menyatakan, Export Credit Agency (ECA) dari OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) telah menaikkan peringkat Indonesia dari posisi enam ke posisi lima. Hal ini berarti biaya peminjaman untuk kredit ekspor akan berkurang. "Baru-baru ini, expor credit agency dari OECD telah menaikkan peringkat kita dari enam ke lima. Turun itu berarti naik, karena yang paling bagus itu satu atau nol," kata Menkeu Jusuf Anwar usai membuka seminar dan konferensi Ikatan Akuntan Indonesia, kompartemen akuntan publik di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (9/6/2005).Menurut Jusuf, dengan perbaikan peringkat itu, berarti risiko Indonesia semakin berkurang, demikian pula spread berkurang dan biaya peminjaman untuk kredit ekspor juga berkurang. "Ini harus disyukuri, disamping terus berlanjutnya posisi outlook dari lembaga-lembaga rating terhadap Indonesia. Ini suatu prestasi," kata Jusuf. Jusuf mengakui, fluktuasi harga saham dan nilai tukar Rupiah akhir-akhir ini sebagai hal yang perlu diwaspadai. Akan tetapi, lanjut Jusuf, fluktuasi yang terjadi bukan merupakan memburuknya fundamental ekonomi. Hasil Pertemuan Tahunan ADBMengenai hasil pertemuan tahunan ADB di Istanbul, Turki, pada 4-6 Mei lalu, Jusuf menyatakan, pemerintah Indonesia dalam pertemuan itu telah menyampaikan presentasi kepada para investor tentang perkembangan ekonomi, fiskal dan moneter dalam rangka membangun kepercayaan. "Ini bagian dari upaya kita untuk sejenis melakukan roadshow dari waktu ke waktu. Dan ternyata sambutannya luar biasa," ungkap Jusuf.Selain itu, kata Jusuf, delegasi Indonesia juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menkeu Jepang, Cina dan juga delegasi AS untuk menyamakan persepsi tentang proses pembangunan di Indonesia. Selain itu pemerintah Indonesia juga mempertanyakan follow up negara-negara tersebut dalam rangka realisasi bantuan yang sudah disepakati dalam CGI maupun untuk Aceh. Sementara ketika bertemu delegasi Perancis, Jusuf menyatakan bahwa Perancis merupakan bagian yang sangat penting dalam Paris Club. Apalagi, lanjut dia, dengan adanya moratorium utang telah menyebabkan bertambahnya ruang bernafas bagi pemerintah Indonesia dalam mengatur anggaran, baik tahun ini maupun tahun-tahun ke depan. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads