Menurutnya, selama ini nelayan lebih mementingkan ketersediaan bahan bakar solar ketimbang adanya bantuan subsidi harga yang diberikan, khususnya kepada kapal-kapal di bawah 30 GT. Sebelumnya, Susi juga telah memnta penghapusan subsidi solar untuk kapal di atas 30 GT.
"Saya sudah minta lagi yang di bawah 30 GT 1,2 juta kilo liter juga dihilangin, tapi sampai hari ini kok masih ada. Padahal keluhan nelayan kami, kami ini tidak perlu subsidi, kami perlu solar ada di mana-mana. Jadi tolong dicabut, tapi kembalikan solar ada di mana-mana nelayan membutuhkan," kata Susi ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (31/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Subsidi ini yang nikmatin ternyata industri yang tidak sepantasnya mendapat subsidi ini. Karena Pertamina yang kuat yang sehat akan menjadi partner kita dalam mengembangkan SKPT," tutur Susi.
Adanya penyediaan bahan bakar solar yang lebih memadai bagi nelayan akan berdampak kepada semuanya. Pasalnya, ketersediaan energi selama ini menjadi penghambat aktivitas nelayan di pulau-pulau terluar Indonesia.
Ia pun meminta kepada Dirut Pertamina untuk tidak ragu dalam menjalankan misi ini, bahkan mempersilakan memakai namanya sebagai jaminan apabila ada pihak-pihak yang menghadang.
"Kita perlu dobrak yang perlu kita dobrak. Jangan cuma saya protes sendirian kanan kiri. Bapak (Manik) juga boleh. Jadi saya support pak. Kalau ada apa-apa bilang saja suruh Menteri. Jual nama saya boleh. Enggak apa-apa demi rakyat, demi Indonesia lebih baik," tukasnya. (mkj/mkj)











































