Harga Merangkak Naik, Pengusaha Tambang: Kita Hidup Lagi

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 04 Agu 2017 12:13 WIB
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Belakangan ini sektor pertambangan bisa dibilang bangkit dari kubur lantaran sejak 2013 diterpa penurunan harga-harga komoditas, seperti batubara.

Saat ini, sektor pertambangan akan kembali membara usai pada kuartal IV 2016 harga komoditas kembali naik di luar ekspektasi pasar.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Supriatna Suhala mengatakan, harga komoditas seperti batubara saat ini berada di level US$ 80-US$ 82 per ton.

"Harga sekarang ada di level nyaman, harga sekitar US$ 80-82 per ton, nyaman itu maksudnya menguntungkan," kata dia saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Jumat (4/8/2017).

Dia menyebutkan, sejak awal 2016 harga batu bara berada dikisaran US$ 60 per ton yang dianggap jual hanya untuk membalikan modal produksi, bahkan dengan harga itu juga ada yang rela jual rugi.

Kenaikan harga terjadi di semester II 2016 yang puncaknya di kuartal akhir dengan harga mencapai lebih dari US$ 100 per ton. Di awal 2017 hingga saat ini harga kembali turun di level US$ 80-US$ 82 per ton.

"Turun harga itu karena over suplai, kita mulai mau hidup lagi. Jadi orang yang tutup sekarang mau buka lagi," papar dia.

Supriatna mengungkapkan, meningkatnya harga komoditas juga menandakan bahwa produksi akan mengalami peningkatan. Menurut dia, produksi batubara hingga semester I 2017 telah mencapai lebih 200 jutaan ton dari target sekitar 470 juta ton.

"Perbaikan ini bisa 6 bulan sampai 1 tahun ke depan, sekarang ini demand sedikit naik diambil pemain yang eksis, jadi mereka mendapat bisa dipastikan posisi keuangan perusahaan tambang yang survive membaik. Saya bisa pastikan laporan keuangan di sektor batubara membaik," tutup dia. (mkj/mkj)