Follow detikFinance
Jumat 04 Aug 2017, 15:28 WIB

Simpang Semanggi Membentang 80 Meter Tanpa Penyangga, 'Katrok'?

Dana Aditiasari - detikFinance
Simpang Semanggi Membentang 80 Meter Tanpa Penyangga, Katrok? Foto: Dewi Irmasari/ detikcom
Jakarta - Simpang Susun Semanggi tengah hangat menjadi pembicaraan lantaran dijuluki 'Katrok' oleh Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Habiburokhman.

Dengan predikat 'Katrok' yang disandangnya, Simpang Semanggi ternyata punya keunggulan yang tak banyak dimiliki jembatan bentang panjang lainnya.

"Jembatan ini bentang tengahnya mencapai 80 meter. Dan itu tanpa tiang penyangga," kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Arie Setiadi Moerwanto saat dihubungi detikFinance, Jumat (4/8/2017).

Arie menambahkan untuk membangun jembatan dengan spesifikasi seperti itu, diperlukan tingkat presisi alias ketelitian yang tinggi. Hal itu, untuk memastikan bahwa konstruksi jembatan mampu menanggung beban berat lalulintas Jakarta.

"Itu sangat presisi. Makanya, saya katakan hebatnya di situ," sambung dia.

Spesifikasi tersebut, diakui Arie tak banyak dimiliki jembatan bentang panjang. Ini, lanjut Arie, menjadi kebanggaan tersendiri karena membuktikan insinyur RI mampu menciptakan infrastruktur yang membutuhkan teknolog dan keterampilan tinggi.

"Yang seperti itu (bentang panjang) mungkin banyak, tapi umumnya jembatan-jembatan lurus. Kalau yang melengkung, ini yang pertama kali di Indonesia," jelas dia.

Arie memastikan kekuatan jembatan, karena infrastruktur ini sudah dilakukan uji kelayakan, uji beban hingga uji operasi.

Uji beban yang dilakukan adalah dengan cara menjajarkan 16 truk sarat muatan. Uji beban dilakukan dua tahap. Pertama uji beban statis di mana, truk-truk diam di tempat selama beberapa saat. Kedua, adalah uji statis, berupa uji beban dengan menggunakan belasan truk sarat muatan yang bergerak dari ujung ke ujung jembatan.

Hasilnya, Simpang Susun Semanggi dinyatakan andal dan layak digunakan ditandai dengan terbitnya Sertifikat Layak Fungsi (SLF) dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ).

"Tugas kita tinggal pemeliharannya yang baik," tandas Arie.

Bila dilihat dari atas, proyek ini terdiri dari dua lintasan berbentuk setengah lingkaran yang bila digabungkan maka dua lintasan ini seolah-olah membentuk satu lingkaran penuh.

Lintasan pertama memiliki panjang 796 m, menghubungkan Jalan Gatot Soebroto di sisi markas Polda Metro Jaya dengan Jalan Raya Jendral Sudirman arah Bundaran HI. Lintasan kedua memiliki panjang 826 m, menghubungkan Jalan Gatot Soebroto di sisi Wisma Mulia dengan Jalan Raya Jendral Sudirman arah Bundaran Senayan.

Jalan layang itu memiliki bentang melengkung terpanjang mencapai 80 meter melintas di atas jalan tol Dalam Kota dan menjadi jalan layang melengkung terpanjang pertama di Indonesia. (dna/mkj)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed